Roman Script    Reciting key words            Previous Sūrah    Quraan Index    Home  

2) Sūrat Al-Baqarah

Printed format

2)

Toggle thick letters. Most people make the mistake of thickening thin letters in the words that have other (highlighted) thick letter Toggle to highlight thick letters
'Alif-Lām-Mīm Alif laam miim. (QS. 2:1) --
Dhālika Al-Kitābu Lā Rayba ۛ Fīhi ۛ Hudan Lilmuttaqīna Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (QS. 2:2) ‍‍ ‌ ‌‍ۛ‍‍‍ۛ‌ ‍‍‍
Al-Ladhīna Yu'uminūna Bil-Ghaybi Wa Yuqīmūna Aş-Şalāata Wa Mimmā Razaqnāhum Yunfiqūna (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (QS. 2:3) ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍
Wa Al-Ladhīna Yu'uminūna Bimā 'Unzila 'Ilayka Wa Mā 'Unzila Min Qablika Wa Bil-'Ākhirati Humqinūna Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. 2:4) ‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‍‍‍
'Ūlā'ika `Alá Hudan Min Rabbihim ۖ Wa 'Ūlā'ika Humu Al-Mufliĥūna Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. 2:5) ‍‍‌‍‍‍ ‌ ‍‌ ‍‌ ‌‍ ۖ ‌‌‍‍‌‍‍‍
'Inna Al-Ladhīna Kafarū Sawā'un `Alayhim 'A 'Andhartahum 'Am Lam Tundhirhum Lā Yu'uminūna Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. 2:6) ‍‍‍‍ ‌‍‍‌‌‌ ‌‌ ‌‌‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‌
Khatama Allāhu `Alá Qulūbihim Wa `Alá Sam`ihim ۖ Wa `Alá 'Abşārihim Ghishāwatun ۖ Wa Lahum `Adhābun `Ažīmun Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. 2:7) ‍ ‌ ‍ ‌‌ ۖ ‌‍‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌ۖ‍‍‌‍‍
Wa Mina An-Nāsi Man Yaqūlu 'Āmannā Billāhi Wa Bil-Yawmi Al-'Ākhiri Wa Mā Hum Bimu'uminīna Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian , padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (QS. 2:8) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍ ‌‍ ‍‍‍‌ ‌‌
Yukhādi`ūna Allāha Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Wa Mā Yakhda`ūna 'Illā 'Anfusahum Wa Mā Yash`urūna Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9) ‍‌‍‍‍ ‍ ‌‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌‍ ‌‌ ‌
Qulūbihim Marađun Fazādahumu Allāhu Marađāan ۖ Wa Lahum `Adhābun 'Alīmun Bimā Kānū Yakdhibūna Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. 2:10) ‍ ‍‌ ‌‌ ‍ ‍ۖ‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‌‌ ‌
Wa 'Idhā Qīla Lahum Lā Tufsidū Fī Al-'Arđi Qālū 'Innamā Naĥnu Muşliĥūna Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi . Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". (QS. 2:11) ‌‌‌‌ ‍‍‍ ‌ ‌‌‍ ‍‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍
'Alā 'Innahum Humu Al-Mufsidūna Wa Lakin Lā Yash`urūna Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:12) ‌ ‌‍‍‌ ‌‍‌ ‌ ‌
Wa 'Idhā Qīla Lahum 'Āminū Kamā 'Āmana An-Nāsu Qālū 'Anu'uminu Kamā 'Āmana As-Sufahā'u ۗ 'Alā 'Innahum Humu As-Sufahā'u Wa Lakin Lā Ya`lamūna Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman". Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. 2:13) ‌‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‌ ‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ۗ ‌‌ ‌‍‍‍‍‌‌ ‌‍‌
Wa 'Idhā Laqū Al-Ladhīna 'Āmanū Qālū 'Āmannā Wa 'Idhā Khalaw 'Ilá Shayāţīnihim Qālū 'Innā Ma`akum 'Innamā Naĥnu Mustahzi'ūna Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS. 2:14) ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‌‌‌‌‌ ‍‌‌ ‌‌ ‍‍‌ ‌‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍
Al-Lahu Yastahzi'u Bihim Wa YamudduhumŢughyānihim Ya`mahūna Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS. 2:15) ‍‍
'Ūlā'ika Al-Ladhīna Ashtaraw Ađ-Đalālata Bil-Hudá Famā Rabiĥat Tijāratuhum Wa Mā Kānū Muhtadīna Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. 2:16) ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍ ‍‌‌ ‌ ‌‍ ‌‍ ‌‌
Mathaluhum Kamathali Al-Ladhī Astawqada Nāan Falammā 'Ađā'at Mā Ĥawlahu Dhahaba Allāhu Binūrihim Wa TarakahumŽulumātin Lā Yubşirūna Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. (QS. 2:17) ‍‌ ‌‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌ ‍ ‌‍ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌
Şummun Bukmun `Umyun Fahum Lā Yarji`ūna Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (QS. 2:18) ‍‌‍‌‌ ‌‌ ‌
'Aw Kaşayyibin Mina As-Samā'i Fīhi Žulumātun Wa Ra`dun Wa Barqun Yaj`alūna 'Aşābi`ahum Fīdhānihim Mina Aş-Şawā`iqi Ĥadhara Al-Mawti Wa ۚ Allāhu Muĥīţun Bil-Kāfirīna Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (QS. 2:19) ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍ ‍ ‌‌‌ ‍‍‍‌‍ ‌‍ ۚ‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍
Yakādu Al-Barqu Yakhţafu 'Abşārahum ۖ Kullamā 'Ađā'a Lahum Mashaw Fīhi Wa 'Idhā 'Ažlama `Alayhim Qāmū ۚ Wa Law Shā'a Allāhu Ladhahaba Bisam`ihim Wa 'Abşārihim ۚ 'Inna Allāha `Alá Kulli Shay'in Qadīrun Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:20) ‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‌‍ ۖ‌ ‌‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌‌‌ ‌‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‌‌ ‍ ‌‌‍‍‍‍ ۚ ‍ ‌ ‍
Yā 'Ayyuhā An-Nāsu A`budū Rabbakumu Al-Ladhī Khalaqakum Wa Al-Ladhīna Min Qablikum La`allakum Tattaqūna Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. 2:21) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‍‍‍
Al-Ladhī Ja`ala Lakumu Al-'Arđa Firāshāan Wa As-Samā'a Binā'an Wa 'Anzala Mina As-Samā'i Mā'an Fa'akhraja Bihi Mina Ath-Thamarāti Rizqāan Lakum ۖ Falā Taj`alū Lillāh 'Andādāan Wa 'Antum Ta`lamūna Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:22) ‌‍‌ ‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ‍ ‍‍‍‌ ‌‍ۖ ‌ ‍‍‍ ‌‌‍‌‌‌‌ ‌‌‌
Wa 'In KuntumRaybin Mimmā Nazzalnā `Alá `Abdinā Fa'tū Bisūratin Min Mithlihi Wa AdShuhadā'akum Min Dūni Allāhi 'In Kuntum Şādiqīna Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (QS. 2:23) ‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‍‌ ‍‌‍‍‌‌ ‍‌‍‍‌ ‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌
Fa'in Lam Taf`alū Wa Lan Taf`alū Fa Attaqū An-Nāra Allatī Waqūduhā An-Nāsu Wa Al-Ĥijāratu ۖ 'U`iddat Lilkāfirīna Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir. (QS. 2:24) ‌ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‍ ‌‍‍‌‌ ‍‍‍‍‌‍ ۖ ‌ ‍
Wa Bashshiri Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti 'Anna Lahum Jannātin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru ۖ Kullamā Ruziqū Minhā Min Thamaratin Rizqāan ۙ Qālū Hādhā Al-Ladhī Ruziqnā Min Qablu ۖ Wa 'Utū Bihi Mutashābihāan ۖ Wa Lahum Fīhā 'Azwājun Muţahharatun ۖ Wa Hum Fīhā Khālidūna Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:25) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ۖ ‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‌‌‍‍‌ۙ ‌ ‌‌ ‌‌‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍ۖ ‌‌‌ ‍ ۖ ‌ ‍‌ ‌‌‌‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍ۖ ‌ ‌ ‍‌
'Inna Allāha Lā Yastaĥyī 'An Yađriba Mathalāan Mā Ba`ūđatan Famā Fawqahā ۚ Fa'ammā Al-Ladhīna 'Āmanū Faya`lamūna 'Annahu Al-Ĥaqqu Min Rabbihim ۖ Wa 'Ammā Al-Ladhīna Kafarū Fayaqūlūna Mādhā 'Arāda Allāhu Bihadhā Mathalāan ۘ Yuđillu Bihi Kathīrāan Wa Yahdī Bihi Kathīrāan ۚ Wa Mā Yuđillu Bihi~ 'Illā Al-Fāsiqīna Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka,tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. 2:26) ‍ ‌ ‍ ‌‌‍‍ ‌ ‌ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‌ ۚ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍ ‍‌ ‌‍ ۖ ‌‌‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌‍‌‌‌ ‍ ‌‌ ۘ‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍
Al-Ladhīna Yanqūna `Ahda Allāhi Min Ba`di Mīthāqihi Wa Yaqţa`ūna Mā 'Amara Allāhu Bihi~ 'Anşala Wa Yufsidūna Fī Al-'Arđi ۚ 'Ūlā'ika Humu Al-Khāsirūna (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 2:27) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍ ‌‌ ‍ ‌‍‍‌ ‌‍ ۚ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‌
Kayfa Takfurūna Billāhi Wa Kuntum 'Amwātāan Fa'aĥyākum ۖ Thumma Yumītukum Thumma Yuĥyīkum Thumma 'Ilayhi Turja`ūna Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan? (QS. 2:28) ‍‍‍‍‌‍ ‌‍‌‍‍‍ ‌‌‌ۖ ‌‍‍‍
Huwa Al-Ladhī Khalaqa Lakum Mā Fī Al-'Arđi Jamī`āan Thumma Astawá 'Ilá As-Samā'i Fasawwāhunna Sab`a Samāwātin ۚ Wa Huwa Bikulli Shay'in `Alīmun Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 2:29) ‍‍‌‍‌ ‍ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍‌ۚ ‌‌ ‍
Wa 'Idh Qāla Rabbuka Lilmalā'ikati 'Innī Jā`ilun Al-'Arđi Khalīfatan ۖ Qālū 'Ataj`alu Fīhā Man Yufsidu Fīhā Wa Yasfiku Ad-Dimā'a Wa Naĥnu Nusabbiĥu Biĥamdika Wa Nuqaddisu Laka ۖ Qāla 'Innī 'A`lamu Mā Lā Ta`lamūna Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Rabb berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. 2:30) ‌‌‌ ‌‍‍ ‌‌‍ ‍‌ ۖ ‍‍‌ ‌‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌ ‌‍‍‍ۖ ‍‍ ‌ ‌ ‌
Wa `Allama 'Ādama Al-'Asmā'a Kullahā Thumma `Arađahum `Alá Al-Malā'ikati Faqāla 'Anbi'ūnī Bi'asmā'i Hā'uulā' 'In Kuntum Şādiqīna Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!", (QS. 2:31) ‌‌ ‍‍‌‌ ‌ ‍‍ ‌ ‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌
Qālū Subĥānaka Lā `Ilma Lanā 'Illā Mā `Allamtanā ۖ 'Innaka 'Anta Al-`Alīmu Al-Ĥakīmu Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:32) ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ‌‌ ‌ ‍ۖ‍ ‌‌‍‍‍
Qāla Yā 'Ādamu 'Anbi'hum Bi'asmā'ihim ۖ Falammā 'Anba'ahum Bi'asmā'ihim Qāla 'Alam 'Aqul Lakum 'Innī 'A`lamu Ghayba As-Samāwāti Wa Al-'Arđi Wa 'A`lamu Mā Tubdūna Wa Mā Kuntum Taktumūna Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan", (QS. 2:33) ‌ ‌‌ ‌‌‍ ‍‍‍ ۖ‍‍‌ ‌‌‍ ‍‍‍ ‌ ‌‍‍ ‌‍‍‍‌‍‍‌‌‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍
Wa 'Idh Qulnā Lilmalā'ikati Asjudū Li'dama Fasajadū 'Illā 'Iblīsa 'Abá Wa Astakbara Wa Kāna Mina Al-Kāfirīna Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. 2:34) ‌‌‌ ‍‌ ‌ ‌ ‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‌‍‍‍
Wa Qulnā Yā 'Ādamu Askun 'Anta Wa Zawjuka Al-Jannata Wa Kulā Minhā Raghadāan Ĥaythu Shi'tumā Wa Lā Taqrabā Hadhihi Ash-Shajarata Fatakūnā Mina Až-Žālimīna Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. 2:35) ‍‌ ‍‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍
Fa'azallahumā Ash-Shayţānu `Anhā Fa'akhrajahumā Mimmā Kānā Fīhi ۖ Wa Qulnā Ahbiţū Ba`đukum Liba`đin `Adūwun ۖ Wa Lakum Al-'Arđi Mustaqarrun Wa Matā`un 'Ilá Ĥīnin Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (QS. 2:36) ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ۖ ‌‍‍‌ ‍‍‌ ‍‍‍‍ ‍ۖ‌‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌ ‌‌
Fatalaqqá 'Ādamu Min Rabbihi Kalimātin Fatāba `Alayhi ۚ 'Innahu Huwa At-Tawwābu Ar-Raĥīmu Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:37) ‍‍‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍ۚ‍‍‌
Qulnā Ahbiţū Minhā Jamī`āan ۖ Fa'immā Ya'tiyannakum Minnī Hudan Faman Tabi`a Hudāya Falā Khawfun `Alayhim Wa Lā Hum Yaĥzanūna Kami berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. 2:38) ‍‌ ‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌ۖ ‍‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‌‌‌ ‍‌ ‍‍‌ ‌‌
Wa Al-Ladhīna Kafarū Wa Kadhdhabū Bi'āyātinā 'Ūlā'ika 'Aşĥābu An-Nāri ۖ Hum Fīhā Khālidūna Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:39) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‍‌
Yā Banī 'Isrā'īla Adhkurū Ni`matiya Allatī 'An`amtu `Alaykum Wa 'Awfū Bi`ahdī 'Ūfi Bi`ahdikum Wa 'Īyāya Fārhabūni Hai Bani Israil, ingatlah ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. 2:40) ‌ ‍‍‍‌‍‍‍‌‌ ‌‌‍ ‌‌‌‍‍‌ ‌‌‍‍‍
Wa 'Āminū Bimā 'Anzaltu Muşaddiqāan Limā Ma`akum Wa Lā Takūnū 'Awwala Kāfirin Bihi ۖ Wa Lā Tashtarū Bi'āyātī Thamanāan Qalīlāan Wa 'Īyāya Fa Attaqūni Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertaqwa. (QS. 2:41) ‌ ‍‌ ‌‌‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌ ‍‌ ‍ ۖ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌‍‍‍‍‍
Wa Lā Talbisū Al-Ĥaqqa Bil-Bāţili Wa Taktumū Al-Ĥaqqa Wa 'Antum Ta`lamūna Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui. (QS. 2:42) ‍ ‌ ‌‌‌
Wa 'Aqīmū Aş-Şalāata Wa 'Ātū Az-Zakāata Wa Arka`ū Ma`a Ar-ki`īna Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku. (QS. 2:43) ‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍
'Ata'murūna An-Nāsa Bil-Birri Wa Tansawna 'Anfusakum Wa 'Antum Tatlūna Al-Kitāba ۚ 'Afalā Ta`qilūna Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. 2:44) ‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‌‍‍‍‍ ‌‌‍ ‌‌‌‍ ‍‍‍ ‍‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍
Wa Asta`īnū Biş-Şabri Wa Aş-Şalāati ۚ Wa 'Innahā Lakabīratun 'Illā `Alá Al-Khāshi`īna Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. 2:45) ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍ۚ ‌‌‍‌ ‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍
Al-Ladhīna Yažunnūna 'Annahum Mulāqū Rabbihim Wa 'Annahum 'Ilayhi ji`ūna (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. 2:46) ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ‌‍ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍
Yā Banī 'Isrā'īla Adhkurū Ni`matiya Allatī 'An`amtu `Alaykum Wa 'Annī Fađđaltukum `Alá Al-`Ālamīna Hai Bani Israil, ingatlah ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. 2:47) ‌ ‍‍‍‌‍‍‍‌‌ ‌‌‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍ ‌
Wa Attaqū Yawmāan Lā Tajzī Nafsun `An Nafsin Shay'āan Wa Lā Yuqbalu Minhā Shafā`atun Wa Lā Yu'ukhadhu Minhā `Adlun Wa Lā Hum Yunşarūna Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS. 2:48) ‌‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‌
Wa 'Idh Najjaynākum Min 'Āli Fir`awna Yasūmūnakum Sū'a Al-`Adhābi Yudhabbiĥūna 'Abnā'akum Wa Yastaĥyūna Nisā'akum ۚ Wa Fī Dhālikum Balā'un Min Rabbikum `Ažīmun Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu. (QS. 2:49) ‌‌‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌‌ ‍‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍ۚ ‌ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍
Wa 'Idh Faraqnā Bikumu Al-Baĥra Fa'anjaynākum Wa 'Aghraqnā 'Āla Fir`awna Wa 'Antum Tanžurūna Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (QS. 2:50) ‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍ ‌‌‌‍ ‍‌‍‍‍‍‍‌
Wa 'Idh Wā`adnā Mūsá 'Arba`īna Laylatan Thumma Attakhadhtumu Al-`Ijla Min Ba`dihi Wa 'Antum Žālimūna Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (QS. 2:51) ‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌ ‌ ‍ ‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌‌
Thumma `Afawnā `Ankum Min Ba`di Dhālika La`allakum Tashkurūna Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. (QS. 2:52) ‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌ ‌
Wa 'Idh 'Ātaynā Mūsá Al-Kitāba Wa Al-Furqāna La`allakum Tahtadūna Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 2:53) ‌‌‌ ‌‌ ‌ ‍‍
Wa 'Idh Qāla Mūsá LiqawmihiQawmi 'Innakum Žalamtum 'Anfusakum Biāttikhādhikumu Al-`Ijla Fatūbū 'Ilá Bāri'ikumqtulū 'Anfusakum Dhālikum Khayrun Lakum `Inda Bāri'ikum Fatāba `Alaykum ۚ 'Innahu Huwa At-Tawwābu Ar-Raĥīmu Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sesembahanmu), maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Rabb yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:54) ‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌‌‍ ‌ ‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍ ۚ‍‍‌
Wa 'Idh Qultum Yā Mūsá Lan Nu'umina Laka Ĥattá Nará Allāha Jahratan Fa'akhadhatkumu Aş-Şā`iqatu Wa 'Antum Tanžurūna Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang , karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (QS. 2:55) ‌‌‌ ‍ ‌ ‌ ‍‌ ‌ ‍‌‌ ‍ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‍ ‍‌‍‍‍‍‍‌
Thumma Ba`athnākum Min Ba`di Mawtikum La`allakum Tashkurūna Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:56) ‍‌ ‌ ‌
Wa Žallalnā `Alaykumu Al-Ghamāma Wa 'Anzalnā `Alaykumu Al-Manna Wa As-Salwá ۖ Kulū Min Ţayyibāti Mā Razaqnākum ۖ Wa Mā Žalamūnā Wa Lakin Kānū 'Anfusahum Yažlimūna Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa" . Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 2:57) ‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‍‌ ‍‌‌ ۖ ‌ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‌ ‌‍‌‌ ‌‌‍ ‍‍‍
Wa 'Idh Qulnā Adkhulū Hadhihi Al-Qaryata Fakulū Minhā Ĥaythu Shi'tum Raghadāan Wa Adkhulū Al-Bāba Sujjadāan Wa Qūlū Ĥiţţatun Naghfir Lakum Khaţāyākum ۚ Wa Sanazīdu Al-Muĥsinīna Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 2:58) ‌‌‌ ‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍ۚ‍‍‍‍‌
Fabaddala Al-Ladhīna Žalamū Qawlāan Ghayra Al-Ladhī Qīla Lahum Fa'anzalnā `Alá Al-Ladhīna Žalamū Rijzāan Mina As-Samā'i Bimā Kānū Yafsuqūna Lalu orang-orang yang mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. (QS. 2:59) ‍‍‍‍‌ ‍‍ ‍‍‍ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌‍‍‍‍‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍
Wa 'Idh Astasqá Mūsá Liqawmihi Faqulnā Ađrib Bi`aşāka Al-Ĥajara ۖnfajarat Minhu Athnatā `Ashrata `Aynāan ۖ Qad `Alima Kullu 'Unāsin Mashrabahum ۖ Kulū Wa Ashrabū Min Rizqi Allāhi Wa Lā Ta`thaw Fī Al-'Arđi Mufsidīna Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. 2:60) ‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍ ۖ‍‍ ‍‌‍‍‌ ‍ۖ ‌ ‌‍‍‍‌ ‍ ۖ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍ ‍ ‌‌ ‌‌ ‌‍
Wa 'Idhi Qultum Yā Mūsá Lan Naşbira `Alá Ţa`āmin Wāĥidind`u Lanā Rabbaka Yukhrij Lanā Mimmā Tunbitu Al-'Arđu Min Baqlihā Wa Qiththā'ihā Wa Fūmihā Wa `Adasihā Wa Başalihā ۖ Qāla 'Atastabdilūna Al-Ladhī Huwa 'Adná Bial-Ladhī Huwa Khayrun ۚ Ahbiţū Mişan Fa'inna Lakum Mā Sa'altum ۗ Wa Đuribat `Alayhimu Adh-Dhillatu Wa Al-Maskanatu Wa Bā'ū Bighađabin Mina Allāhi ۗ Dhālika Bi'annahum Kānū Yakfurūna Bi'āyāti Allāhi Wa Yaqtulūna An-Nabīyīna Bighayri Al-Ĥaqqi ۗ Dhālika Bimā `Aşaw Wa Kānū Ya`tadūna Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. 2:61) ‌‌‌ ‍ ‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌ ‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‌‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍‌ ۖ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ۚ ‍‍‌ ‍‍‍‍‌‌ۗ ‌‍ ‍ ‌ ‌‍‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‍ۗ‍‍‌‍‍ ‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ۗ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌
'Inna Al-Ladhīna 'Āmanū Wa Al-Ladhīna Hādū Wa An-Naşārá Wa Aş-Şābi'īna Man 'Āmana Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri Wa `Amila Şāliĥāan Falahum 'Ajruhum `Inda Rabbihim Wa Lā Khawfun `Alayhim Wa Lā Hum Yaĥzanūna Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:62) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌‍‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍‌‌ ‌‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‌
Wa 'Idh 'Akhadhnā Mīthāqakum Wa Rafa`nā Fawqakumu Aţ-Ţūra Khudhū Mā 'Ātaynākum Biqūwatin Wa Adhkurū Mā Fīhi La`allakum Tattaqūna Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa". (QS. 2:63) ‌‌‌ ‌‍‍‌ ‍ ‌‌‍‌ ‍‍‍‌‍‍‌‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ‍‍‍
Thumma Tawallaytum Min Ba`di Dhālika ۖ Falawlā Fađlu Allāhi `Alaykum Wa Raĥmatuhu Lakuntum Mina Al-Khāsirīna Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (QS. 2:64) ‍‌ ‌ ‌ ۖ ‌ ‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍
Wa Laqad `Alimtumu Al-Ladhīna A`tadaw Minkum As-Sabti Faqulnā Lahum Kūnū Qiradatan Khāsi'īna Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina". (QS. 2:65) ‍‍‍‌‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍
Faja`alnāhā Nakālāan Limā Bayna Yadayhā Wa Mā Khalfahā Wa Maw`ižatan Lilmuttaqīna Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:66) ‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍
Wa 'Idh Qāla Mūsá Liqawmihi~ 'Inna Allāha Ya'murukum 'An Tadhbaĥū Baqaratan ۖ Qālū 'Atattakhidhunā Huzūan ۖ Qāla 'A`ūdhu Billāhi~ 'An 'Akūna Mina Al-Jāhilīn Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan 62?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil". (QS. 2:67) ‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍ ۖ ‍‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍‌‌‌ۖ ‌‍‍‍‌‌ ‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍
Qālū Ad`u Lanā Rabbaka Yubayyin Lanā Mā Hiya ۚ Qāla 'Innahu Yaqūlu 'Innahā Baqaratun Lā Fāriđun Wa Lā Bikrun `Awānun Bayna Dhālika ۖ Fāf`alū Mā Tu'umarūna Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". (QS. 2:68) ‌ ‌‍ ‍‌ ‌ ‌ ۚ ‍‍‍‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ۖ ‌ ‌ ‌
Qālū Ad`u Lanā Rabbaka Yubayyin Lanā Mā Lawnuhā ۚ Qāla 'Innahu Yaqūlu 'Innahā Baqaratun Şafrā'u Fāqi`un Lawnuhā Tasurru An-Nāžirīna Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya". (QS. 2:69) ‌ ‌‍ ‍‌ ‌ ‌ ‌ ۚ ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‌‌‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍
Qālū Ad`u Lanā Rabbaka Yubayyin Lanā Mā Hiya 'Inna Al-Baqara Tashābaha `Alaynā Wa 'Innā 'In Shā'a Allāhu Lamuhtadūna Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk". (QS. 2:70) ‌ ‌‍ ‍‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‌ ‌ ‌‌‌ ‌‌‍‍‌‌ ‍ ‌
Qāla 'Innahu Yaqūlu 'Innahā BaqaratunDhalūlun Tuthīru Al-'Arđa Wa Lā Tasqī Al-Ĥartha MusallamatunShiyata Fīhā ۚ Qālū Al-'Āna Ji'ta Bil-Ĥaqqi ۚ Fadhabaĥūhā Wa Mā Kādū Yaf`alūna Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71) ‍‍‍‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‍ ‌‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ‌ ۚ ۚ ‌ ‌‌ ‌‌
Wa 'Idh Qataltum Nafsāan Fa Addāra'tum Fīhā Wa ۖ Allāhu Mukhrijun Mā Kuntum Taktumūna Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (QS. 2:72) ‌‌‌ ‍ ‌‌ ‌‌‌‍‌ ‌ ۖ‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍
Faqulnā Ađribūhu Biba`đihā ۚ Kadhālika Yuĥyī Al-Lahu Al-Mawtá Wa Yurīkum 'Āyātihi La`allakum Ta`qilūna Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!". Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti. (QS. 2:73) ‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ۚ ‌ ‌‍ ‌‍‍‍
Thumma Qasat Qulūbukum Min Ba`di Dhālika Fahiya Kālĥijārati 'Aw 'Ashaddu Qaswatan ۚ Wa 'Inna Mina Al-Ĥijārati Lamā Yatafajjaru Minhu Al-'Anhāru ۚ Wa 'Inna Minhā Lamā Yashshaqqaqu Fayakhruju Minhu Al-Mā'u ۚ Wa 'Inna Minhā Lamā Yahbiţu Min Khashyati Allāhi ۗ Wa Mā Al-Lahu Bighāfilin `Ammā Ta`malūna Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:74) ‍ ‍‌ ‌ ‌ ‌‍ ‌‌‌ ‌‌ ۚ ‌‌ ‌‍ ‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‌‌ ۚ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ۚ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌ ‍ ‍‌ ۗ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌
'Afataţma`ūna 'An Yu'uminū Lakum Wa Qad Kāna Farīqun Minhum Yasma`ūna Kalāma Allāhi Thumma Yuĥarrifūnahu Min Ba`di Mā `Aqalūhu Wa Hum Ya`lamūna Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui 65? (QS. 2:75) ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍ ‍ ‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍
Wa 'Idhā Laqū Al-Ladhīna 'Āmanū Qālū 'Āmannā Wa 'Idhā Khalā Ba`đuhum 'Ilá Ba`đin Qālū 'Atuĥaddithūnahum Bimā Fataĥa Allāhu `Alaykum Liyuĥājjūkum Bihi `Inda Rabbikum ۚ 'Afalā Ta`qilūna Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidakkah kamu mengerti 66?" (QS. 2:76) ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‌‌‌‌‌ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌ ‌ ‍ ‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍
'Awalā Ya`lamūna 'Anna Allāha Ya`lamu Mā Yusirrūna Wa Mā Yu`linūna Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. (QS. 2:77) ‌‌ ‍‍‍ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌
Wa Minhum 'Ummīyūna Lā Ya`lamūna Al-Kitāba 'Illā 'Amānīya Wa 'In Hum 'Illā Yažunnūna Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga (QS. 2:78) ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‍‍ ‌‌ ‌ ‌‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍
Fawaylun Lilladhīna Yaktubūna Al-Kitāba Bi'aydīhim Thumma Yaqūlūna Hādhā Min `Indi Allāhi Liyashtarū Bihi Thamanāan Qalīlāan ۖ Fawaylun Lahum Mimmā Katabat 'Aydīhim Wa Waylun Lahum Mimmā Yaksibūna Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:79) ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‌‌ ‍‍‌ۖ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‌
Wa Qālū Lan Tamassanā An-Nāru 'Illā 'Ayyāmāan Ma`dūdatan ۚ Qul 'Āttakhadhtum `Inda Allāhi `Ahdāan Falan Yukhlifa Allāhu `Ahdahu~ ۖ 'Am Taqūlūna `Alá Allāhi Mā Lā Ta`lamūna Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja". Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. 2:80) ‌ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌‌ ۚ ‍ ‌‍‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‌‌‌ ‍‌‍‍~ ۖ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌
Balá Man Kasaba Sayyi'atan Wa 'Aĥāţat Bihi Khaţī'atuhu Fa'ūlā'ika 'Aşĥābu An-Nāri ۖ Hum Fīhā Khālidūna (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:81) ‌ ‍‌ ‌ ‌‌‍ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‍‌
Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti 'Ūlā'ika 'Aşĥābu Al-Jannati ۖ Hum Fīhā Khālidūna Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:82) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍ۖ‍‌
Wa 'Idh 'Akhadhnā Mīthāqa Banī 'Isrā'īla Lā Ta`budūna 'Illā Al-Laha Wa Bil-Wālidayni 'Iĥsānāan Wa Dhī Al-Qurbá Wa Al-Yatāmá Wa Al-Masākīni Wa Qūlū Lilnnāsi Ĥusnāan Wa 'Aqīmū Aş-Şalāata Wa 'Ātū Az-Zakāata Thumma Tawallaytum 'Illā Qalīlāan Minkum Wa 'Antum Mu`rūna Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. 2:83) ‌‌‌ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍‍‌‍‍‍‍ ‌ ‍‍‌ ‌‌ ‍ ‌‌‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌‍ ‍‍‍
Wa 'Idh 'Akhadhnā Mīthāqakum Lā Tasfikūna Dimā'akum Wa Lā Tukhrijūna 'Anfusakum Min Diyārikum Thumma 'Aqrartum Wa 'Antum Tash/hadūna Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhi) sedang kamu mempersaksikannya. (QS. 2:84) ‌‌‌ ‌‍‍‌ ‍ ‌ ‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌‌‍ ‌
Thumma 'Antum Hā'uulā' Taqtulūna 'Anfusakum Wa Tukhrijūna Farīqāan Minkum Min Diyārihim Tažāharūna `Alayhim Bil-'Ithmi Wa Al-`Udwāni Wa 'In Ya'tūkum 'Usārá Tufādūhum Wa Huwa Muĥarramun `Alaykum 'Ikhjuhum ۚ 'A Fatu'uminūna Biba`đi Al-Kitābi Wa Takfurūna ۚ Biba`đin Famā Jazā'u Man Yaf`alu Dhālika Minkum 'Illā Khizyun Al-Ĥayāati ۖ Ad-Dunyā Wa Yawma Al-Qiyāmati Yuraddūna 'Ilá 'Ashaddi ۗ Al-`Adhābi Wa Mā Al-Lahu Bighāfilin `Ammā Ta`malūna Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. 2:85) ‌‌‍ ‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‍‍‌ ‌‌‌ ‌‌‍‌‌ ‌‌ ‌‌ ‍ۚ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ۚ‌ ‌ ‍‍‌‌‌ ‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍ ۖ ‍‌‍‌ ‌‍ ‍‍‍ ‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌ ۗ ‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌
'Ūlā'ika Al-Ladhīna Ashtaraw Al-Ĥayāata Ad-Dunyā Bil-'Ākhirati ۖ Falā Yukhaffafu `Anhumu Al-`Adhābu Wa Lā Hum Yunşarūna Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS. 2:86) ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‌‌‌ ‍‍ ‍‌‍‌ ‍‍‍ ۖ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‌
Wa Laqad 'Ātaynā Mūsá Al-Kitāba Wa Qaffaynā Min Ba`dihi Bir-Rusuli ۖ Wa 'Ātaynā `Īsá Abna Maryama Al-Bayyināti Wa 'Ayyadnāhu Birūĥi Al-Qudusi ۗ 'Afakullamā Jā'akum Rasūlun Bimā Lā Tahwá 'Anfusukum Astakbartum Fafarīqāan Kadhdhabtum Wa Farīqāan Taqtulūn Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada 'Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. 2:87) ‌ ‌‌ ‌ ‍‍ ‌‍‍‌ ‍‌ ۖ ‌‌‌ ‌ ‍‍ ‌‌‍‍‍ ‍‍‌ ‍‍ۗ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌ ‌ ‌ ‌ ‌‌‍‍‍‌‍ ‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍
Wa Qālū Qulūbunā Ghulfun ۚ Bal La`anahumu Allāhu Bikufrihim Faqalīlāan Mā Yu'uminūna Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (QS. 2:88) ‍‌ ‍‌ۚ ‍ ‍‍‍‌ ‌
Wa Lammā Jā'ahum Kitābun Min `Indi Allāhi Muşaddiqun Limā Ma`ahum Wa Kānū Min Qablu Yastaftiĥūna `Alá Al-Ladhīna Kafarū Falammā Jā'ahum Mā `Arafū Kafarū Bihi ۚ Fala`natu Allāhi `Alá Al-Kāfirīna Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. 2:89) ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌ ‌‌ ‍‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍‌ ‌‌ ‍ ۚ ‍ ‌
Bi'sa Mā Ashtaraw Bihi~ 'Anfusahum 'An Yakfurū Bimā 'Anzala Allāhu Baghyāan 'An Yunazzila Allāhu Min Fađlih `Alá Man Yashā'u Min ۖ `Ibādihi Fabā'ū Bighađabin `Alá ۚ Ghađabin Wa Lilkāfirīna `Adhābun Muhīnun Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-nya di antar hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan . Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang menghinakan. (QS. 2:90) ‌‌‌ ‌‌‍ ‌‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍ ‍‌‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‌‌ ‍‌ ۖ‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌ ۚ ‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‌
Wa 'Idhā Qīla Lahum 'Āminū Bimā 'Anzala Allāhu Qālū Nu'uminu Bimā 'Unzila `Alaynā Wa Yakfurūna Bimā Warā'ahu Wa Huwa Al-Ĥaqqu Muşaddiqāan Limā Ma`ahum ۗ Qul Falima Taqtulūna 'Anbiyā'a Allāhi Min Qablu 'In Kuntum Mu'uminīna Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al-Qur'an yang diturunkan Allah". Mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur'an itu (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa dahulu kamu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS. 2:91) ‌‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‌‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‌ ‌‍‍‌ ‌ ‌‌‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ۗ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‌‌ ‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍
Wa Laqad Jā'akum Mūsá Bil-Bayyināti Thumma Attakhadhtumu Al-`Ijla Min Ba`dihi Wa 'Antum Žālimūna Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mu'jizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim. (QS. 2:92) ‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌‌
Wa 'Idh 'Akhadhnā Mīthāqakum Wa Rafa`nā Fawqakumu Aţ-Ţūra Khudhū Mā 'Ātaynākum Biqūwatin Wa Asma`ū ۖ Qālū Sami`nā Wa `Aşaynā Wa 'Ushribū Fī Qulūbihimu Al-`Ijla Bikufrihim ۚ Qul Bi'samā Ya'murukum Bihi~ 'Īmānukum 'In Kuntum Mu'uminīna Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengarkan tapi tidak mena'ati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu betul beriman (kepada Taurat)". (QS. 2:93) ‌‌‌ ‌‍‍‌ ‍ ‌‌‍‌ ‍‍‍‌‍‍‌‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌ۖ ‌ ‌ ‌‍‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍ ‍ ۚ ‍ ‌ ‌ ‌‌ ‍‌‍‍
Qul 'In Kānat Lakumu Ad-Dāru Al-'Ākhiratu `Inda Allāhi Khālişatan Min Dūni An-Nāsi Fatamannaw Al-Mawta 'In Kuntum Şādiqīna Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. (QS. 2:94) ‍ ‌‌ ‍‍‌‌‌ ‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌
Wa Lan Yatamannawhu 'Abadāan Bimā Qaddamat 'Aydīhim Wa ۗ Allāhu `Alīmun Biž-Žālimīna Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang aniaya. (QS. 2:95) ‍‌‍‍ ‌‌‌ ‌ ‍ ‌ ۗ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍
Wa Latajidannahum 'Aĥraşa An-Nāsi `Alá Ĥayāatin Wa Mina Al-Ladhīna 'Ashraۚ Yawaddu 'Aĥaduhum Law Yu`ammaru 'Alfa Sanatin Wa Mā Huwa Bimuzaĥziĥihi Mina Al-`Adhābi 'An Yu`ammara Wa ۗ Allāhu Başīrun Bimā Ya`malūna Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, seloba-loba manusia kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:96) ‍ ‌‍ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍ۚ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍ ‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍ۗ‍‍‍‍‌ ‌
Qul Man Kāna `Adūwāan Lijibrīla Fa'innahu Nazzalahu `Alá Qalbika Bi'idhni Allāhi Muşaddiqāan Limā Bayna Yadayhi Wa Hudan Wa Bushrá Lilmu'uminīna Katakanlah: "Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS. 2:97) ‍ ‍‌‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‍‌‌
Man Kāna `Adūwāan Lillāh Wa Malā'ikatihi Wa Rusulihi Wa Jibrīla Wa Mīkāla Fa'inna Allāha `Adūwun Lilkāfirīna Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir. (QS. 2:98) ‍‌‍‍ ‌‌ ‌‍ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌ ‍
Wa Laqad 'Anzalnā 'Ilayka 'Āyātin Bayyinātin ۖ Wa Mā Yakfuru Bihā 'Illā Al-Fāsiqūna Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2:99) ‌ ‌‌‍‍‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍ۖ ‌‌ ‌ ‍‌ ‌‌ ‍‍
'Awakullamā `Āhadū `Ahdāan Nabadhahu Farīqun Minhum ۚ Bal 'Aktharuhum Lā Yu'uminūna Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengangkat janji, segolongan mereka melemparkannya. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. 2:100) ‌‌ ‌‌ ‌‍‍‍‌ ‍‌‍‍ۚ ‌ ‌
Wa Lammā Jā'ahum Rasūlun Min `Indi Allāhi Muşaddiqun Limā Ma`ahum Nabadha Farīqun Mina Al-Ladhīna 'Ūtū Al-Kitāba Kitāba Allāhi Warā'a Žuhūrihim Ka'annahum Lā Ya`lamūna Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). (QS. 2:101) ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍ ‍ ‌‌‍‍‌‌‌ ‍ ‌
Wa Attaba`ū Mā Tatlū Ash-Shayāţīnu `Alá Mulki Sulaymāna ۖ Wa Mā Kafara Sulaymānu Wa Lakinna Ash-Shayāţīna Kafarū Yu`allimūna An-Nāsa As-Siĥra Wa Mā 'Unzila `Alá Al-Malakayni Bibābila Hārūta Wa Mārūta ۚ Wa Mā Yu`allimāni Min 'Aĥadin Ĥattá Yaqūlā 'Innamā Naĥnu Fitnatun Falā Takfur ۖ Fayata`allamūna Minhumā Mā Yufarriqūna Bihi Bayna Al-Mar'i Wa Zawjihi ۚ Wa Mā Hum Biđārrīna Bihi Min 'Aĥadin 'Illā Bi'idhni Allāhi ۚ Wa Yata`allamūna Mā Yađurruhum Wa Lā Yanfa`uhum ۚ Wa Laqad `Alimū Lamani Ashtarāhu Mā Lahu Fī Al-'Ākhirati Min Khalāqin ۚ Wa Labi'sa Mā Sharaw Bihi~ 'Anfusahum ۚ Law Kānū Ya`lamūna Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaiu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan ijin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfa'at. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102) ‌ ‌ ‌ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ۖ ‌‌ ‍‌ ‍‍‍ ‌‍ ‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌‍ ‌ ‍‍‍ ‌‍‍‌ ‌‌‍‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍‍ ‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌ ‌ ‌ ۖ‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‌‌ ‌‌‌‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍ ‍‌ ‌‌‌ ‌‌ ‌ ۚ ‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍ۚ ‌‍‍‍‍‌ ‌ ‍ ‍‍ ‍‌ ‍‍ۚ ‌ ‌ ‍‌‌‌ ‌‌ۚ
Wa Law 'Annahum 'Āmanū Wa Attaqaw Lamathūbatun Min `Indi Allāhi Khayrun ۖ Law Kānū Ya`lamūna Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:103) ‌ ‌‍ ‌‌ ‌‍‍‍‌‌ ‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍ۖ
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Taqūlū `inā Wa Qūlū Anžurnā Wa Asma`ū ۗ Wa Lilkāfirīna `Adhābun 'Alīmun Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. (QS. 2:104) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‍‌‌ ‌‍‍‍‍‌ ‌ۗ ‌‍‍‍‍‍‍‌
Mā Yawaddu Al-Ladhīna Kafarū Min 'Ahli Al-Kitābi Wa Lā Al-Mushrikīna 'An Yunazzala `Alaykum Min Khayrin Min Rabbikum Wa ۗ Allāhu Yakhtaşşu Biraĥmatihi Man Yashā'u Wa ۚ Allāhu Dhū Al-Fađli Al-`Ažīmi Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabb-mu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 2:105) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‍‍‌ ‍‌ ‌‍ ۗ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‌‌ ۚ ‌‌‌ ‍‍‍‍
Mā Nansakh Min 'Āyatin 'Aw Nunsihā Na'ti Bikhayrin Minhā 'Aw Mithlihā ۗ 'Alam Ta`lam 'Anna Allāha `Alá Kulli Shay'in Qadīrun Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. 2:106) ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‍ۗ ‌ ‌ ‍ ‌ ‍
'Alam Ta`lam 'Anna Allāha Lahu Mulku As-Samāwāti Wa Al-'Arđi ۗ Wa Mā Lakum Min Dūni Allāhi Min Wa Līyin Wa Lā Naşīrin Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (QS. 2:107) ‍ ‍ ‍‌‍‍‌‌‍ ۗ ‌‌ ‍‌‍‍‌ ‍ ‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍
'Am Turīdūna 'An Tas'alū Rasūlakum Kamā Su'ila Mūsá Min Qablu ۗ Wa Man Yatabaddali Al-Kufra Bil-'Īmāni Faqad Đalla Sawā'a As-Sabīli Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. (QS. 2:108) ‍‍‌ ‌‌ ‌ ‌‍ ‌ ‌ ‍‌ ‍‍ۗ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‌‌
Wadda Kathīrun Min 'Ahli Al-Kitābi Law Yaruddūnakum Min Ba`di 'Īmānikum Kuffāan Ĥasadāan Min `Indi 'Anfusihim Min Ba`di Mā Tabayyana Lahumu Al-Ĥaqqu ۖ Fā`fū Wa Aşfaĥū Ĥattá Ya'tiya Allāhu Bi'amrihi~ ۗ 'Inna Allāha `Alá Kulli Shay'in Qadīrun Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109) ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌ ‌ ‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌‌‍ ‍‌ ‌ ‌ ۖ ‌ ‌‌ ‌ ‍ ‍ ۗ ‍ ‌ ‍
Wa 'Aqīmū Aş-Şalāata Wa 'Ātū Az-Zakāata ۚ Wa Mā Tuqaddimū Li'nfusikum Min Khayrin Tajidūhu `Inda Allāhi ۗ 'Inna Allāha Bimā Ta`malūna Başīrun Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:110) ‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍ ‍‌ ‍‍‍‌‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ۗ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍
Wa Qālū Lan Yadkhula Al-Jannata 'Illā Man Kāna Hūdāan 'Aw Naşārá ۗ Tilka 'Amānīyuhum ۗ Qul Hātū Burhānakum 'In Kuntum Şādiqīn Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS. 2:111) ‌ ‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍ ‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‌‍‌‌ ۗۗ ‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌‍‍‍‍
Balá Man 'Aslama Wajhahu Lillāh Wa Huwa Muĥsinun Falahu~ 'Ajruhu `Inda Rabbihi Wa Lā Khawfun `Alayhim Wa Lā Hum Yaĥzanūna (Tidak demikian) dan bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:112) ‌ ‍‌ ‌ ‌‍‍ ‌‌ ‌~ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‌
Wa Qālati Al-Yahūdu Laysati An-Naşārá `Alá Shay'in Wa Qālati An-Naşārá Laysati Al-Yahūdu `Alá Shay'in Wa Hum Yatlūna Al-Kitāba ۗ Kadhālika Qāla Al-Ladhīna Lā Ya`lamūna Mithla Qawlihim ۚ Fa-Allāhu Yaĥkumu Baynahum Yawma Al-Qiyāmati Fīmā Kānū Fīhi Yakhtalifūna Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak punya suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan", padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengucapkan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2:113) ‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‍‌‌ ‌ ‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‌‍‌‌ ‍‍‌‌ ‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍ ‍‍ ۗ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ۚ ‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ‍‍‍
Wa Man 'Ažlamu Mimman Mana`a Masājida Allāhi 'An Yudhkara Fīhā Asmuhu Wa Sa`á Fī Khabihā ۚ 'Ūlā'ika Mā Kāna Lahum 'An Yadkhulūhā 'Ilā Khā'ifīna ۚ Lahum Ad-DunKhizyun Wa Lahum Al-'Ākhirati `Adhābun `Ažīmun Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (QS. 2:114) ‍‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍‌‍ ‌‌‌ ‌ ‌‌ ‌‍ۚ‍‍‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍ۚ ‍‌‍‌ ‌ ‌ ‍‍ ‍‍‌‍‍
Wa Lillāh Al-Mashriqu Wa Al-Maghribu ۚ Fa'aynamā Tuwallū Fathamma Wajhu Allāhi 'Inna ۚ Allāha Wāsi`un `Alīmun Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:115) ‍‍ ۚ‌ ‍ۚ ‍ ‌‌
Wa Qālū Attakhadha Allāhu Waladāan ۗ Subĥānahu ۖ Bal Lahu Mā Fī As-Samāwāti Wa Al-'Arđi ۖ Kullun Lahu Qānitūna Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS. 2:116) ‍‍‍‌ ‍ ‌‌‌ۗ‍‍‍‍ ۖ‍‌‍‍‌‌‍ ۖ ‌ ‍
Badī`u As-Samāwāti Wa Al-'Arđi ۖ Wa 'Idhā Qá 'Aman Fa'innamā Yaqūlu Lahu Kun Fayakūnu Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. 2:117) ‍‍‍‍‌‍‍‌‌‍ ۖ ‌‌‌‌‌ ‍‍‌ ‌‌‌‍‌ ‍‍‍ ‍‌
Wa Qāla Al-Ladhīna Lā Ya`lamūna Lawlā Yukallimunā Al-Lahu 'Aw Ta'tīnā 'Āyatun ۗ Kadhālika Qāla Al-Ladhīna Min Qablihim Mithla Qawlihim ۘ Tashābahat Qulūbuhum ۗ Qad Bayyannā Al-'Āyāti Liqawminqinūna Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. (QS. 2:118) ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ‌‌‌ ‍‌ ‌‌ۗ ‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍ۘ ۗ ‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍
'Innā 'Arsalnāka Bil-Ĥaqqi Bashīrāan Wa Nadhīrāan ۖ Wa Lā Tus'alu `An 'Aşĥābi Al-Jaĥīmi Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. (QS. 2:119) ‌ ‌‌‍‍‍‌ ‌‍ۖ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍‍‍
Wa Lan Tarđá `Anka Al-Yahūdu Wa Lā An-Naşārá Ĥattá Tattabi`a Millatahum ۗ Qul 'Inna Hudá Allāhi Huwa Al-Hudá ۗ Wa La'ini Attaba`ta 'Ahwā'ahum Ba`da Al-Ladhī Jā'aka Mina Al-`Ilmi ۙ Mā Laka Mina Allāhi Min Wa Līyin Wa Lā Naşīrin Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120) ‍‌‍‌ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‍‌‌ ‌ ۗ ‍ ‌ ‌‌ ‍ ‌ ‌‌ ۗ‍‍‌‌ ‌ ‍‍ ۙ‍ ‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍
Al-Ladhīna 'Ātaynāhumu Al-Kitāba Yatlūnahu Ĥaqqa Tilāwatihi~ 'Ūlā'ika Yu'uminūna Bihi ۗ Wa Man Yakfur Bihi Fa'ūlā'ika Humu Al-Khāsirūna Orang-orang yang telah kami beri Al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 2:121) ‍‍‍‍ ‌ ‍‍ ‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ۗ ‌‍‌ ‌ ‍ ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‌
Yā Banī 'Isrā'īla Adhkurū Ni`matiya Allatī 'An`amtu `Alaykum Wa 'Annī Fađđaltukum `Alá Al-`Ālamīna Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. 2:122) ‌ ‍‍‍‌‍‍‍‌‌ ‌‌‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍ ‌
Wa Attaqū Yawmāan Lā Tajzī Nafsun `An Nafsin Shay'āan Wa Lā Yuqbalu Minhā `Adlun Wa Lā Tanfa`uhā Shafā`atun Wa Lā Hum Yunşarūna Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa'at sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS. 2:123) ‌‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‌
Wa 'Idh Abtalá 'Ibhīma Rabbuhu Bikalimātin Fa'atammahunna ۖ Qāla 'Innī Jā`iluka Lilnnāsi 'Imāmāan ۖ Qāla Wa Min Dhurrīyatī ۖ Qāla Lā Yanālu `Ahdī Až-Žālimīna Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. 2:124) ‌‌‌ ‍‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍ ۖ ‍ ‍‍‍‍‍ ‌‌ۖ ‌‍‌ ‌‌ ۖ ‌ ‍‍‍ ‍‍
Wa 'Idh Ja`alnā Al-Bayta Mathābatan Lilnnāsi Wa 'Amnāan Wa Attakhidhū Min Maqāmi 'Ibhīma Muşallan ۖ Wa `Ahidnā 'Ilá 'Ibhīma Wa 'Ismā`īla 'An Ţahhirā Baytiya Lilţţā'ifīna Wa Al-`Ākifīna Wa Ar-Rukka`i As-Sujūdi Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku', dan yang sujud. (QS. 2:125) ‌‌‌ ‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌‍‍‍‌‌ ‍‌‍‍‍‍‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍ۖ ‌‍‌ ‌‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍‌
Wa 'Idh Qāla 'Ibhīmu Rabbi Aj`al Hādhā Baladāan 'Āmināan Wa Arzuq 'Ahlahu Mina Ath-Thamarāti Man 'Āmana Minhum Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri ۖ Qāla Wa Man Kafara Fa'umatti`uhu Qalīlāan Thumma 'Ađţarruhu~ 'Ilá `Adhābi An-Nāri ۖ Wa Bi'sa Al-Maşīru Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo'a: "Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS. 2:126) ‌‌‌ ‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‍ ‍ ‌‌ ‌‌‌ ‌‌ ‌‌‌ ‌‍ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ۖ ‌‍‌‌ ‍ ‍‌‌ ‍ ‌‍‍‍~ ‌‌ ‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‍‍
Wa 'Idh Yarfa`u 'Ibhīmu Al-Qawā`ida Mina Al-Bayti Wa 'Ismā`īlu Rabbanā Taqabbal Minnā ۖ 'Innaka 'Anta As-Samī`u Al-`Alīmu Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdo'a): "Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:127) ‌‌‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‍‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ۖ‍ ‌‌‍‍‍‍‍
Rabbanā Wa Aj`alnā Muslimayni Laka Wa Min Dhurrīyatinā 'Ummatan Muslimatan Laka Wa 'Arinā Manāsikanā Wa Tub `Alaynā ۖ 'Innaka 'Anta At-Tawwābu Ar-Raĥīmu Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:128) ‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍‌ ‌ ‌ ‌‌‌ ‌ ‌‍ۖ‍ ‌‌‍‍‌
Rabbanā Wa Ab`ath Fīhim Rasūlāan Minhum Yatlū `Alayhim 'Āyātika Wa Yu`allimuhumu Al-Kitāba Wa Al-Ĥikmata Wa Yuzakkīhim ۚ 'Innaka 'Anta Al-`Azīzu Al-Ĥakīmu Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:129) ‌ ‌‍ ‌‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌ ‌ ‌ ‍‍ۚ‍ ‌‌‍‍‍‍‌
Wa Man Yarghabu `An Millati 'Ibhīma 'Illā Man Safiha Nafsahu ۚ Wa Laqadi Aşţafaynāhu Fī Ad-Dunۖ Wa 'Innahu Fī Al-'Ākhirati Lamina Aş-Şāliĥīna Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh. (QS. 2:130) ‍‌‍ ‍‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ۚ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‌ ۖ ‌‌ ‍‍ ‍‍
'Idh Qāla Lahu Rabbuhu~ 'Aslim ۖ Qāla 'Aslamtu Lirabbi Al-`Ālamīna Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam". (QS. 2:131) ‌‌ ‌‍~ۖ ‌ ‍
Wa Waşşá Bihā 'Ibhīmu Banīhi Wa Ya`qūbu Yā Banīya 'Inna Allāha Aşţafá Lakumu Ad-Dīna Falā Tamūtunna 'Illā Wa 'Antum Muslimūna Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. 2:132) ‌‍‍‌ ‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍ ‌‌ ‌‌‌
'Am Kuntum Shuhadā'a 'Idh Ĥađara Ya`qūba Al-Mawtu 'Idh Qāla Libanīhi Mā Ta`budūna Min Ba`dī Qālū Na`budu 'Ilahaka Wa 'Ilaha 'Ābā'ika 'Ibhīma Wa 'Ismā`īla Wa 'Isĥāqa 'Ilahāan Wāĥidāan Wa Naĥnu Lahu Muslimūna Adakah kamu hadir ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Ilah-mu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il, dan Ishaq, (yaitu) ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya". (QS. 2:133) ‍‌‍‍‍‍‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‌ ‍‌ ‌ ‌ ‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‌ ‌‌‌‌ ‌ ‍
Tilka 'Ummatun Qad Khalat ۖ Lahā Mā Kasabat Wa Lakum Mā Kasabtum ۖ Wa Lā Tus'alūna `Ammā Kānū Ya`malūna Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 2:134) ‍‌ۖ ‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌
Wa Qālū Kūnū Hūdāan 'Aw Naşārá Tahtadū ۗ Qul Bal Millata 'Ibhīma Ĥanīfāan ۖ Wa Mā Kāna Mina Al-Mushrikīna Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". katakanlah: "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". (QS. 2:135) ‌ ‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‌‍‌‌ ‌ۗ ‍ ‌‍‍‌‍‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‍‍
Qūlū 'Āmannā Billāhi Wa Mā 'Unzila 'Ilaynā Wa Mā 'Unzila 'Ilá 'Ibhīma Wa 'Ismā`īla Wa 'Isĥāqa Wa Ya`qūba Wa Al-'Asbāţi Wa Mā 'Ūtiya Mūsá Wa `Īsá Wa Mā 'Ūtiya An-Nabīyūna Min Rabbihim Lā Nufarriqu Bayna 'Aĥadin Minhum Wa Naĥnu Lahu Muslimūna Katakanlah (hai orang-orang mu'min): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan 'Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. 2:136) ‍‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍ ‌‌ ‌‍‌ ‌‌‍ ‌‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‍‍‌ ‌ ‌‌ ‌‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‍ ‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌ ‍
Fa'in 'Āmanū Bimithli Mā 'Āmantum Bihi Faqadi Ahtadaw ۖ Wa 'In Tawallaw Fa'innamā HumShiqāqin ۖ Fasayakfīkahumu Allāhu ۚ Wa Huwa As-Samī`u Al-`Alīmu Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:137) ‌ ‍‌ ‌‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ۖ ‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‍‍‍ۖ ۚ ‌‌ ‍‍‍‍‍
Şibghata Allāhi ۖ Wa Man 'Aĥsanu Mina Allāhi Şibghatan ۖ Wa Naĥnu Lahu `Ābidūna Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah. (QS. 2:138) ‍‍‍‍‍‍ۖ ‌‍‌‍‍‍‍‍‍ ۖ ‌ ‍
Qul 'Atuĥājjūnanā Fī Al-Lahi Wa Huwa Rabbunā Wa Rabbukum Wa Lanā 'A`mālunā Wa Lakum 'A`mālukum Wa Naĥnu Lahu Mukhlişūna Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Rabb Kami dan Rabb Kamu;bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, (QS. 2:139) ‍ ‌‍‍‍ ‌‌ ‌‍‌ ‌‌‍ ‌‍‌ ‌‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍
'Am Taqūlūna 'Inna 'Ibhīma Wa 'Ismā`īla Wa 'Isĥāqa Wa Ya`qūba Wa Al-'Asbāţa Kānū Hūdāan 'Aw Naşārá ۗ Qul 'A'antum 'A`lamu 'Ami Allāhu ۗ Wa Man 'Ažlamu Mimman Katama Shahādatan `Indahu Mina Allāhi ۗ Wa Mā Al-Lahu Bighāfilin `Ammā Ta`malūna ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?". Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:140) ‍‍‍‍‍‍‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‌‍‌‌ ۗ ‍ ‌‌‌‍ ‌ ‌ ۗ ‌‍‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍ ۗ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌
Tilka 'Ummatun Qad Khalat ۖ Lahā Mā Kasabat Wa Lakum Mā Kasabtum ۖ Wa Lā Tus'alūna `Ammā Kānū Ya`malūna Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 2:141) ‍‌ۖ ‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌
Sayaqūlu As-Sufahā'u Mina An-Nāsi Mā Wa Llāhum `An Qiblatihimu Allatī Kānū `Alayhā ۚ Qul Lillāh Al-Mashriqu Wa Al-Maghribu ۚ Yahdī Man Yashā'u 'Ilá Şirāţin Mustaqīmin Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata : "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?". Katakanlah : "Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus . (QS. 2:142) ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌ ‍‌ ‍‍ ‌ ‌ ۚ ‍‍ ۚ ‍‌‍‍‌‌ ‌‌ ‍‌‌ ‍‍‍
Wa Kadhalika Ja`alnākum 'Ummatan Wasaţāan Litakūnū Shuhadā'a `Alá An-Nāsi Wa Yakūna Ar-Rasūlu `Alaykum Shahīdāan ۗ Wa Mā Ja`alnā Al-Qiblata Allatī Kunta `Alayhā 'Illā Lina`lama Man Yattabi`u Ar-Rasūla Mimman Yanqalibu `Alá `Aqibayhi ۚ Wa 'In Kānat Lakabīratan 'Illā `Alá Al-Ladhīna Hadá Allāhu ۗ Wa Mā Kāna Allāhu Liyuđī`a 'Īmānakum ۚ 'Inna Allāha Bin-Nāsi Lara'ūfun Raĥīmun Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. 2:143) ‌ ‌‍‍‍‍‍‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‍‍ۗ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌‌ ‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ۚ ‌‌‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ۗ ‌‌ ‍‍‍ ‍ ‍‍‍‍‍‍ ‌ ۚ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‌‍
Qad Nará Taqalluba Wajhika Fī As-Samā'i Falanuwalliyannaka ۖ Qiblatan Tarđāhā Fawalli Wajhaka ۚ Shaţra Al-Masjidi Al-Ĥarāmi Wa Ĥaythu Mā ۚ Kuntum Fawallū Wujūhakum Shaţrahu Wa 'Inna Al-Ladhīna ۗ 'Ūtū Al-Kitāba Laya`lamūna 'Annahu Al-Ĥaqqu Min Rabbihim Wa Mā Al-Lahu ۗ Bighāfilin `Ammā Ya`malūna Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:144) ‌ ‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌‌ ۖ‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‌ ۚ‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۚ ‌‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ۗ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‍ ۗ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌
Wa La'in 'Atayta Al-Ladhīna 'Ūtū Al-Kitāba Bikulli 'Āyatin Mā Tabi`ū Qiblataka ۚ Wa Mā 'Anta Bitābi`in Qiblatahum ۚ Wa Mā Ba`đuhum Bitābi`in Qiblata Ba`đin ۚ Wa La'ini Attaba`ta 'Ahwā'ahum Min Ba`di Mā Jā'aka Mina Al-`Ilmi ۙ 'Innaka 'Idhāan Lamina Až-Žālimīna Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian dari mereka pun tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (QS. 2:145) ‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍ۚ ‌‍‌ ‌‌‍ ‌‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‍ۚ‍‍‌‌ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍ ۙ‍ ‌‌‌‍‍
Al-Ladhīna 'Ātaynāhumu Al-Kitāba Ya`rifūnahu Kamā Ya`rifūna 'Abnā'ahum ۖ Wa 'Inna Farīqāan Minhum Layaktumūna Al-Ĥaqqa Wa Hum Ya`lamūna Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146) ‍‍‍‍ ‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ۖ ‌‌‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍
Al-Ĥaqqu Min Rabbika ۖ Falā Takūnanna Mina Al-Mumtarīna Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147) ‍‌ ‌‍ ۖ ‌ ‍
Wa Likullin Wijhatun Huwa Muwallīhā ۖ Fāstabiqū Al-Khayrāti ۚ 'Ayna Mā Takūnū Ya'ti Bikumu Allāhu Jamī`āan ۚ 'Inna Allāha `Alá Kulli Shay'in Qadīrun Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:148) ‌ ‌‍ ‌ ‌ ۖ‍‍‍‍‍‍‍‌ ۚ‍ ‌ ‍ ‌ۚ ‍ ‌ ‍
Wa Min Ĥaythu Kharajta Fawalli Wajhaka Shaţra Al-Masjidi Al-Ĥarāmi Wa 'Innahu ۖ Lalĥaqqu Min Rabbika Wa Mā ۗ Al-Lahu Bighāfilin `Ammā Ta`malūna Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram; Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabb-mu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah atas apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:149) ‍‌‍‍‍ ‌‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ ‌‌ ‍‌ ‌‍ ۗ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌
Wa Min Ĥaythu Kharajta Fawalli Wajhaka Shaţra Al-Masjidi Al-Ĥarāmi Wa Ĥaythu ۚ Mā Kuntum Fawallū Wujūhakum Shaţrahu Li'allā Yakūna Lilnnāsi `Alaykum Ĥujjatun 'Illā Al-Ladhīna Žalamū Minhum Falā Takhshawhum Wa Akhshawnī Wa Li'atimma Ni`matī `Alaykum Wa La`allakum Tahtadūna Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak hujjah manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni'mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. 2:150) ‍‌‍‍‍ ‌‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۚ ‌‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍ ‌‍ ‌ ‌
Kamā 'Arsalnā Fīkum Rasūlāan Minkum Yatlū `Alaykum 'Āyātinā Wa Yuzakkīkum Wa Yu`allimukumu Al-Kitāba Wa Al-Ĥikmata Wa Yu`allimukum Mā Lam Takūnū Ta`lamūna Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. 2:151) ‌ ‌‌‌ ‌‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍ ‌ ‌
dhkurūnī 'Adhkurkum Wa Ashkurū Lī Wa Lā Takfurūni Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku. (QS. 2:152) ‌‌‍ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ‌
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Asta`īnū Biş-Şabri Wa Aş-Şalāati ۚ 'Inna Allāha Ma`a Aş-Şābirīna Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 2:153) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍ۚ ‍‍‍‍
Wa Lā Taqūlū Liman Yuqtalu Fī Sabīli Allāhi 'Amwātun ۚ Bal 'Aĥyā'un Wa Lakin Lā Tash`urūna Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154) ‌ ‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‌ۚ ‌‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌ ‌
Wa Lanabluwannakum Bishay'in Mina Al-Khawfi Wa Al-Jū`i Wa Naqşin Mina Al-'Amwli Wa Al-'Anfusi Wa Ath-Thamarāti ۗ Wa Bashshiri Aş-Şābirīna Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. 2:155) ‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌‍ ‌‍‍‍‌ ۗ ‌‌ ‍‍‍‍
Al-Ladhīna 'Idhā 'Aşābat/hum Muşībatun Qālū 'Innā Lillāh Wa 'Innā 'Ilayhi ji`ūna (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun . (QS. 2:156) ‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍‌‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍
'Ūlā'ika `Alayhim Şalawātun Min Rabbihim Wa Raĥmatun ۖ Wa 'Ūlā'ika Humu Al-Muhtadūna Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:157) ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‌‌ ‍‌ ‌‍ ‌‌‍ۖ ‌‌‍‍‌‍‍‍
'Inna Aş-Şafā Wa Al-Marwata Min Sha`ā'iri Allāhi ۖ Faman Ĥajja Al-Bayta 'Aw A`tamara Falā Junāĥa `Alayhi 'An Yaţţawwafa Bihimā ۚ Wa Man Taţawwa`a Khayan Fa'inna Allāha Shākirun `Alīmun Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:158) ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍ۖ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌ ۚ ‌‍‌‍‍‍‌‌ ‍ ‌
'Inna Al-Ladhīna Yaktumūna Mā 'Anzalnā Mina Al-Bayyināti Wa Al-Hudá Min Ba`di Mā Bayyannāhu Lilnnāsi Fī Al-Kitābi ۙ 'Ūlā'ika Yal`anuhumu Allāhu Wa Yal`anuhumu Al-Lā`inūna Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela'nati, (QS. 2:159) ‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ‌‌‍‌ ‍‍‌‌ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ۙ‍‍‌‍‍‍ ‍ ‌
'Illā Al-Ladhīna Tābū Wa 'Aşlaĥū Wa Bayyanū Fa'ūlā'ika 'Atūbu `Alayhim ۚ Wa 'Anā At-Tawwābu Ar-Raĥīmu Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:160) ‍‍‍‌ ‌‌‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍ ۚ ‌‌‌ ‍‍‌
'Inna Al-Ladhīna Kafarū Wa Mātū Wa Hum Kuffārun 'Ūlā'ika `Alayhim La`natu Allāhi Wa Al-Malā'ikati Wa An-Nāsi 'Ajma`īna Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapati la'nat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. (QS. 2:161) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‌‌ ‌‍‍‌‍‍‍ ‍ ‌‍‍‍‍
Khālidīna Fīhā ۖ Lā Yukhaffafu `Anhumu Al-`Adhābu Wa Lā Hum Yunžarūna Mereka kekal di dalam la'nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS. 2:162) ‍‍‍‍ ‌ ۖ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‌
Wa 'Ilahukum 'Ilahun Wāĥidun ۖ Lā 'Ilāha 'Illā Huwa Ar-Raĥmānu Ar-Raĥīmu Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 2:163) ‌ ‌‌ ‌‌ۖ ‌ ‌ ‌‌ ‌
'Inna Fī Khalqi As-Samāwāti Wa Al-'Arđi Wa Akhtilāfi Al-Layli Wa An-Nahāri Wa Al-Fulki Allatī Tajrī Fī Al-Baĥri Bimā Yanfa`u An-Nāsa Wa Mā 'Anzala Allāhu Mina As-Samā'i Min Mā'in Fa'aĥyā Bihi Al-'Arđa Ba`da Mawtihā Wa Baththa Fīhā Min Kulli Dābbatin Wa Taşrīfi Ar-Riyāĥi Wa As-Saĥābi Al-Musakhkhari Bayna As-Samā'i Wa Al-'Arđi La'āyātin Liqawmin Ya`qilūna Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164) ‍‍ ‍‌‍‍‌‌‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍ ‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌‌ ‍‌‍‍‌‌‌ ‌ ‌‍ ‌ ‌ ‌ ‌ ‍‌‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‌‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍
Wa Mina An-Nāsi Man Yattakhidhu Min Dūni Allāhi 'Andādāan Yuĥibbūnahum Kaĥubbi Allāhi Wa ۖ Al-Ladhīna 'Āmanū 'Ashaddu Ĥubbāan Lillāh ۗ Wa Law Yará Al-Ladhīna Žalamū 'Idh Yarawna Al-`Adhāba 'Anna Al-Qūwata Lillāh Jamī`āan Wa 'Anna Allāha Shadīdu Al-`Adhābi Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‌‍‍‌ ‍ ‌‌‍‌‌‌ۖ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ۗ ‌‌ ‍‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‍ ‍‍‌ ‍‍ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌
'Idh Tabarra'a Al-Ladhīna Attubi`ū Mina Al-Ladhīna Attaba`ū Wa Ra'aw Al-`Adhāba Wa Taqaţţa`at Bihimu Al-'Asbābu (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali. (QS. 2:166) ‌‌ ‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌‍‌‌‌‌ ‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍
Wa Qāla Al-Ladhīna Attaba`ū Law 'Anna Lanā Karratan Fanatabarra'a Minhum Kamā Tabarra'ū Minnā ۗ Kadhālika Yurīhimu Allāhu 'A`mālahum Ĥasarātin `Alayhim ۖ Wa Mā Hum Bikhārijīna Mina An-Nāri Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami". Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (QS. 2:167) ‍‍‍‌ ‌ ‌ ‌ ‍ ‌ ‍‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ۗ ‍ ‌ ‍‍‌ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍
Yā 'Ayyuhā An-Nāsu Kulū Mimmā Fī Al-'Arđi Ĥalālāan Ţayyibāan Wa Lā Tattabi`ū Khuţuwāti Ash-Shayţāni ۚ 'Innahu Lakum `Adūwun Mubīn Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:168) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ۚ‌ ‍‍‍
'Innamā Ya'murukum Bis-Sū'i Wa Al-Faĥshā'i Wa 'An Taqūlū `Alá Allāhi Mā Lā Ta`lamūna Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169) ‍‌ ‍‍‍‍‍‌‌ ‌‍‍‌‌ ‌‌‌‍‍‌ ‌ ‍ ‌ ‌
Wa 'Idhā Qīla Lahum Attabi`ū Mā 'Anzala Allāhu Qālū Bal Nattabi`u Mā 'Alfaynā `Alayhi 'Ābā'anā ۗ 'Awalaw Kāna 'Ābā'uuhum Lā Ya`qilūna Shay'āan Wa Lā Yahtadūna Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. 2:170) ‌‌‌‌ ‍‍‌ ‍‌ ‌‌‌ ‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‌‍ۗ ‌‌‌ ‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌
Wa Mathalu Al-Ladhīna Kafarū Kamathali Al-Ladhī Yan`iqu Bimā Lā Yasma`u 'Illā Du`ā'an Wa Nidā'an ۚ Şummun Bukmun `Umyun Fahum Lā Ya`qilūna Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. 2:171) ‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‌ ‌ ‌‌ ‌‍‍‍‌ ‌‍‍‌‌‌ۚ ‍‌‍‌‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Kulū Min Ţayyibāti Mā Razaqnākum Wa Ashkurū Lillāh 'In Kuntum 'Īyāhu Ta`budūna Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS. 2:172) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍
'Innamā Ĥarrama `Alaykumu Al-Maytata Wa Ad-Dama Wa Laĥma Al-Khinzīri Wa Mā 'Uhilla Bihi Lighayri Allāhi ۖ Famani Ađţurra Ghayraghin Wa Lā `Ādin Falā 'Ithma `Alayhi ۚ 'Inna Allāha Ghafūrun Raĥīmun Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:173) ‍‌ ‍ ‍ ‌ ‍‍‍‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ۖ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍ۚ ‍‍‍‍‌ ‌‍
'Inna Al-Ladhīna Yaktumūna Mā 'Anzala Allāhu Mina Al-Kitābi Wa Yashtarūna Bihi Thamanāan Qalīlāan ۙ 'Ūlā'ika Mā Ya'kulūna Fī Buţūnihim 'Illā An-Nāra Wa Lā Yukallimuhumu Allāhu Yawma Al-Qiyāmati Wa Lā Yuzakkīhim Wa Lahum `Adhābun 'Alīmun Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api , dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (QS. 2:174) ‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌‍‌ ۙ‍‍‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌‍‌ ‌‌ ‍ ‍ ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‌
'Ūlā'ika Al-Ladhīna Ashtaraw Ađ-Đalālata Bil-Hudá Wa Al-`Adhāba Bil-Maghfirati ۚ Famā 'Aşbarahum `Alá An-Nāri Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (QS. 2:175) ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍ ‍‌‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍ ۚ‌ ‌‍‍‍‍‍
Dhālika Bi'anna Allāha Nazzala Al-Kitāba Bil-Ĥaqqi ۗ Wa 'Inna Al-Ladhīna Akhtalafū Fī Al-Kitābi Lafī Shiqāqin Ba`īdin Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran). (QS. 2:176) ‍‍ ۗ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍
Laysa Al-Birra 'An Tuwallū Wujūhakum Qibala Al-Mashriqi Wa Al-Maghribi Wa Lakinna Al-Birra Man 'Āmana Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri Wa Al-Malā'ikati Wa Al-Kitābi Wa An-Nabīyīna Wa 'Ātá Al-Māla `Alá Ĥubbihi Dhawī Al-Qurbá Wa Al-Yatāmá Wa Al-Masākīna Wa Abna As-Sabīli Wa As-Sā'ilīna Wa Fī Ar-Riqābi Wa 'Aqāma Aş-Şalāata Wa 'Ātá Az-Zakāata Wa Al-Mūfūna Bi`ahdihim 'Idhā `Āhadū Wa ۖ Aş-Şābirīna Fī Al-Ba'sā'i Wa Ađ-Đarrā'i Wa Ĥīna Al-Ba'si ۗ 'Ūlā'ika Al-Ladhīna Şadaqū ۖ Wa 'Ūlā'ika Humu Al-Muttaqūna Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:177) ‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍ ‌‍ ‍‍‌ ‍‌ ‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍ ‌ ‍ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‌ ‌ۖ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍‌‌‌ ‌‍‍‍‍ ۗ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍ۖ ‌‌‍‍‌‍‍‍ ‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Kutiba `Alaykumu Al-Qişāşu Fī Al-Qatlá ۖ Al-Ĥurru Bil-Ĥurri Wa Al-`Abdu Bil-`Abdi Wa Al-'Unthá Bil-'Unthá ۚ Faman `Ufiya Lahu Min 'Akhīhi Shay'un Fa Attibā`un Bil-Ma`rūfi Wa 'Adā'un 'Ilayhi Bi'iĥsānin ۗ Dhālika Takhfīfun Min Rabbikum Wa Raĥmatun ۗ Famani A`tadá Ba`da Dhālika Falahu `Adhābun 'Alīmun Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) mambayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih. (QS. 2:178) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ۖ ‌ ‍‌ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‍‍‌ ۚ ‍‌ ‍‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌‌‌‍‍‌‌‌‌ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍ۗ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍ ‌‌‍ۗ ‌‌ ‌ ‌ ‍ ‍‍‌
Wa Lakum Al-Qişāşi Ĥayāatun Yā 'Ūlī Al-'Albābi La`allakum Tattaqūna Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa. (QS. 2:179) ‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍
Kutiba `Alaykum 'Idhā Ĥađara 'Aĥadakumu Al-Mawtu 'In Taraka Khayan Al-Waşīyatu Lilwālidayni Wa Al-'Aqrabīna Bil-Ma`rūfi ۖ Ĥaqqāan `Alá Al-Muttaqīna Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:180) ‌‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‌‌‍ ‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ۖ‍‍‍‌ ‌ ‍‍
Faman Baddalahu Ba`damā Sami`ahu Fa'innamā 'Ithmuhu `Alá Al-Ladhīna Yubaddilūnahu~ ۚ 'Inna Allāha Samī`un `Alīmun Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:181) ‍‌ ‌ ‍ ‍‍‌ ‌‍‍‍‍~ ۚ ‍ ‍‍‍‍
Faman Khāfa Minşin Janafāan 'Aw 'Ithmāan Fa'aşlaĥa Baynahum Falā 'Ithma `Alayhi ۚ 'Inna Allāha Ghafūrun Raĥīmun (Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosanya baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:182) ‍‌ ‍‌‍‍‍‌‍‌‌ ‌ ‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍ۚ ‍‍‍‍‌ ‌‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Kutiba `Alaykumu Aş-Şiyāmu Kamā Kutiba `Alá Al-Ladhīna Min Qablikum La`allakum Tattaqūna Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‍‍‍
'Ayyāmāan Ma`dūdātin ۚ Faman Kāna Minkum Marīđāan 'Aw `Alá Safarin Fa`iddatun Min 'Ayyāmin 'Ukhara ۚ Wa `Alá Al-Ladhīna Yuţīqūnahu Fidyatun Ţa`āmu Miskīnin ۖ Faman Taţawwa`a Khayan Fahuwa Khayrun Lahu ۚ Wa 'An Taşūmū Khayrun Lakum ۖ 'In Kuntum Ta`lamūna (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. 2:184) ‌ ‌‌‍‍‌ۚ ‍‌‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍ ‌‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ۖ ‍‌‍‍‍‌‌‌ ‌ ‍‍‌ ‍ ۚ ‌‌‌‍‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‌‍‍
Shahru Ramađāna Al-Ladhī 'Unzila Fīhi Al-Qur'ānu Hudan Lilnnāsi Wa Bayyinātin Mina Al-Hudá Wa Al-Furqāni ۚ Faman Shahida Minkumu Ash-Shahra Falyaşumhu ۖ Wa Man Kāna Marīđāan 'Aw `Alá Safarin Fa`iddatun Min 'Ayyāmin 'Ukhara ۗ Yurīdu Allāhu Bikumu Al-Yusra Wa Lā Yurīdu Bikumu Al-`Usra Wa Litukmilū Al-`Iddata Wa Litukabbirū Allaha `Alá Mā Hadākum Wa La`allakum Tashkurūna (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:185) ‌ ‌‍‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‌‌ ‌ ۚ ‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍ۖ ‌‍‌‍‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍ ‌‍ۗ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌ ‌ ‌‌‍ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌
Wa 'Idhā Sa'alaka `Ibādī `Annī Fa'innī Qarībun ۖ 'Ujību Da`wata Ad-Dā`i 'Idhā Da`āni ۖ Falyastajībū Lī Wa Līu'uminū Bī La`allahum Yarshudūna Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186) ‌‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ۖ ‌‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‌ ‌‌‌‌ ‌‍‍‍ ۖ ‌ ‌‌ ‌
'Uĥilla Lakum Laylata Aş-Şiyāmi Ar-Rafathu 'Ilá Nisā'ikum ۚ Hunna Libāsun Lakum Wa 'Antum Libāsun Lahunna ۗ `Alima Allāhu 'Annakum Kuntum Takhtānūna 'Anfusakum Fatāba `Alaykum Wa `Afā `Ankum ۖ Fāl'āna Bāshirūhunna Wa Abtaghū Mā Kataba Allāhu Lakum ۚ Wa Kulū Wa Ashrabū Ĥattá Yatabayyana Lakumu Al-Khayţu Al-'Abyađu Mina Al-Khayţi Al-'Aswadi Mina Al-Fajri ۖ Thumma 'Atimmū Aş-Şiyāma 'Ilá Al-Layli ۚ Wa Lā Tubāshirūhunna Wa 'Antum `Ākifūna Fī Al-Masājidi ۗ Tilka Ĥudūdu Allāhi Falā Taqrabūhā ۗ Kadhālika Yubayyinu Allāhu 'Āyātihi Lilnnāsi La`allahum Yattaqūna Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam,(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa. (QS. 2:187) ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍ ۚ‍‍ ‌ ‌‌‌‍ ‍‍‍ ‌ ‍ ۗ ‍ ‌‍ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍ۖ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌ ۚ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ۖ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ۚ ‌‌ ‌‍ ‌‌‌‍ ‍‍‍ ۗ ‍‍‌‌‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍ۗ ‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍
Wa Lā Ta'kulū 'Amwālakum Baynakum Bil-Bāţili Wa Tudlū Bihā 'Ilá Al-Ĥukkāmi Lita'kulū Farīqāan Min 'Amwāli An-Nāsi Bil-'Ithmi Wa 'Antum Ta`lamūna Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:188) ‌ ‍‌ ‌‌ ‍‍ ‌‍‌ ‍‌ ‌‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‍‌‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌‌
Yas'alūnaka `Ani Al-'Ahillati ۖ Qul Hiya Mawāqītu Lilnnāsi Wa Al-Ĥajji ۗ Wa Laysa Al-Birru Bi'an Ta'tū Al-Buyūta Min Žuhūrihā Wa Lakinna Al-Birra Mani Attaqá ۗ Wa 'Tū Al-Buyūta Min 'Abwābihā ۚ Wa Attaqū Allaha La`allakum Tufliĥūna Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah : "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaktian itu ialah kebaktian orang yang bertaqwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. 2:189) ۖ ‍ ‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ۗ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍ ‍‌ ‌ ‌‍ ‍‍‌ ‍‍‍‌ ۗ ‌‌‍‍ ‍‌‍‌‌ ۚ‍‍
Wa Qātilū Fī Sabīli Allāhi Al-Ladhīna Yuqātilūnakum Wa Lā Ta`tadū ۚ 'Inna Allāha Lā Yuĥibbu Al-Mu`tadīna Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. 2:190) ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌ ۚ ‍ ‌
qtulūhum Ĥaythu Thaqiftumūhum Wa 'Akhrijūhum Min Ĥaythu 'Akhrajūkum Wa ۚ Al-Fitnatu 'Ashaddu Mina Al-Qatli ۚ Wa Lā Tuqātilūhum `Inda Al-Masjidi Al-Ĥarāmi Ĥattá Yuqātilūkum Fīhi ۖ Fa'in Qātalūkumqtulūhum ۗ Kadhālika Jazā'u Al-Kāfirīna Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (QS. 2:191) ‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‌‍‍‍ ‌‍ ۚ ‌‌ ‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ۖ ‍‍ۗ ‍‍‌‌‌
Fa'ini Antahaw Fa'inna Allāha Ghafūrun Raĥīmun Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:192) ‍‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍
Wa Qātilūhum Ĥattá Lā Takūna Fitnatun Wa Yakūna Ad-Dīnu Lillāh ۖ Fa'ini Antahaw Falā `Udwāna 'Illā `Alá Až-Žālimīna Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. 2:193) ‍ ‌ ‌ ‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍ ‍‍‍ ۖ ‍‌‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍
Ash-Shahru Al-Ĥarāmu Bish-Shahri Al-Ĥarāmi Wa Al-Ĥurumātu Qişāşun ۚ Famani A`tadá `Alaykum Fā`tadū `Alayhi Bimithli Mā A`tadá `Alaykum ۚ Wa Attaqū Allaha Wa A`lamū 'Anna Allāha Ma`a Al-Muttaqīna Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:194) ‍‌ ‍‌‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍ ‍‍ۚ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ۚ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍
Wa 'Anfiqū Fī Sabīli Allāhi Wa Lā Tulqū Bi'aydīkum 'Ilá At-Tahlukati ۛ Wa 'Aĥsinū ۛ 'Inna Allāha Yuĥibbu Al-Muĥsinīna Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. 2:195) ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ۛ ‌‌‍ۛ
Wa 'Atimmū Al-Ĥajja Wa Al-`Umrata Lillāh ۚ Fa'in 'Uĥşirtum Famā Astaysara Mina Al-Hadyi ۖ Wa Lā Taĥliqū Ru'ūsakum Ĥattá Yablugha Al-Hadyu Maĥillahu ۚ Faman Kāna Minkum Marīđāan 'Aw Bihi~ 'Adhan Min Ra'sihi Fafidyatun Min Şiyāmin 'Aw Şadaqatin 'Aw Nusukin ۚ Fa'idhā 'Amintum Faman Tamatta`a Bil-`Umrati 'Ilá Al-Ĥajji Famā Astaysara Mina Al-Hadyi ۚ Faman Lam Yajid Faşiyāmu Thalāthati 'Ayyāmin Al-Ĥajji Wa Sab`atin 'Idhā Raja`tum ۗ Tilka `Asharatun Kāmilatun ۗ Dhālika Liman Lam Yakun 'Ahluhu Ĥāđirī Al-Masjidi Al-Ĥarāmi ۚ Wa Attaqū Allaha Wa A`lamū 'Anna Allāha Shadīdu Al-`Iqābi Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'Umrah sebelum Haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. 2:196) ‌‍‍‍ ۚ ‌‍‍‍ ۖ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ۚ ‍‌‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌‌‌‌ ‍‌ ‌‍‌‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌‌ ‌ۚ‌ ‌‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌‌ ۚ ‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌‌ ‌‌‌‌ ‌‍ ۗ‌ ‌ۗ ‌ ‍‌ ‍‌ ‌‍ ‍‌ ۚ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍
Al-Ĥajju 'Ash/hurun Ma`lūmātun ۚ Faman Farađa Fīhinna Al-Ĥajja Falā Rafatha Wa Lā Fusūqa Wa Lā Jidāla Fī Al-Ĥajji ۗ Wa Mā Taf`alū Min Khayrin Ya`lamhu Allāhu ۗ Wa Tazawwadū Fa'inna Khayra Az-Zādi At-Taqۚ Wa Attaqūnī Yā 'Ūlī Al-'Albābi (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. 2:197) ‌ ‍‍‍ۚ ‍‌ ‌ ‌‍ ‌‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‍‌ ۗ ‌‌ ‌ ‍‌ ‍‍ۗ ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‍‌‌ ۚ‍‍‍ ‍‌ ‌‍‍
Laysa `Alaykum Junāĥun 'An Tabtaghū Fađlāan Min Rabbikum ۚ Fa'idhā 'Afađtum Min `Arafātindhkurū Allaha `Inda Al-Mash`ari Al-Ĥarāmi ۖ Wa Adhkurūhu Kamā Hadākum Wa 'In Kuntum Min Qablihi Lamina Ađ-Đāllīna Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (QS. 2:198) ‍‍‍ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍ ۚ‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌‍‍‌ ‌‌‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‌ ‍‌ ۖ‍‍‌ ‌ ‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍‍ ‍‍
Thumma 'Afīđū Min Ĥaythu 'Afāđa An-Nāsu Wa Astaghfirū Allaha ۚ 'Inna Allāha Ghafūrun Raĥīmun Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafat) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:199) ‌‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ۚ ‍‍‍‍‌ ‌‍
Fa'idhā Qađaytum Manāsikakumdhkurū Allaha Kadhikrikum 'Ābā'akum 'Aw 'Ashadda Dhikan ۗ Famina An-Nāsi Man Yaqūlu Rabbanā 'Ātinā Fī Ad-Dunyā Wa Mā Lahu Fī Al-'Ākhirati Min Khalāqin Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. 2:200) ‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌‍ ‍ ‌‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌‌ ‌‌‌ۗ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ‍‌‍‌ ‌‌ ‍ ‍‍ ‍‌ ‍‍
Wa Minhum Man Yaqūlu Rabbanā 'Ātinā Fī Ad-Dunyā Ĥasanatan Wa Fī Al-'Ākhirati Ĥasanatan Wa Qinā `Adhāba An-Nāri Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka (QS. 2:201) ‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ‍‌‍‌ ‌ ‌ ‍‍ ‌ ‌‍‍‌ ‍‍‌ ‍‍
'Ūlā'ika Lahum Naşībun Mimmā Kasabū Wa ۚ Allāhu Sarī`u Al-Ĥisābi Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. 2:202) ‍‍‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ۚ‍‍‍
Wa Adhkurū Allaha Fī 'Ayyāmin Ma`dūdātin ۚ Faman Ta`ajjala Fī Yawmayni Falā 'Ithma `Alayhi Wa Man Ta'akhkhara Falā 'Ithma `Alayhi ۚ Limani Attaqá ۗ Wa Attaqū Allaha Wa A`lamū 'Annakum 'Ilayhi Tuĥsharūna Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertaqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. (QS. 2:203) ‌‌‌‍ ‍ ‌‍‍‍‌ ‌‌‍‍‌ۚ ‍‌‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍ۚ ‍‍‍‌ ۗ‍‍‍ ‌‌ ‌‍ ‌‍‍‍‍ ‌
Wa Mina An-Nāsi Man Yu`jibuka Qawluhu Fī Al-Ĥayāati Ad-Dunyā Wa Yush/hidu Allāha `Alá Mā Fī Qalbihi Wa Huwa 'Aladdu Al-Khişāmi Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. 2:204) ‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍ ‍‍ ‍‌‍‌ ‌‌ ‍ ‌ ‌ ‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍
Wa 'Idhā Tawallá Sa`á Fī Al-'Arđi Liyufsida Fīhā Wa Yuhlika Al-Ĥartha Wa An-Nasla Wa ۗ Allāhu Lā Yuĥibbu Al-Fasāda Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. 2:205) ‌‌‌‌ ‌ ‌ ‌‍ ‌ ‌ ‌ ‍‍ۗ
Wa 'Idhā Qīla Lahu Attaqi Allāha 'Akhadhat/hu Al-`Izzatu Bil-'Ithmi ۚ Faĥasbuhu Jahannamu ۚ Wa Labi'sa Al-Mihādu Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertaqwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. 2:206) ‌‌‌‌ ‍‍ ‍ ‌‍ ۚ‍‍ۚ
Wa Mina An-Nāsi Man Yashrī Nafsahu Abtighā'a Marđāati Allāhi Wa ۗ Allāhu Ra'ūfun Bil-`Ibādi Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. 2:207) ‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍ ۗ ‌‍‍‍‌‌ ‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Adkhulū Fī As-Silmi Kāffatan Wa Lā Tattabi`ū Khuţuwāti Ash-Shayţāni ۚ 'Innahu Lakum `Adūwun Mubīnun Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:208) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ۚ
Fa'in Zalaltum Min Ba`di Mā Jā'atkumu Al-Bayyinātu Fā`lamū 'Anna Allāha `Azīzun Ĥakīmun Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepada kamu bukti-bukti kebenaran maka ketahuilah, bahwa bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:209) ‌ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌
Hal Yanžurūna 'Illā 'An Ya'tiyahumu Allāhu Fī Žulalin Mina Al-Ghamāmi Wa Al-Malā'ikatu Wa Quđiya Al-'Amru ۚ Wa 'Ilá Allāhi Turja`u Al-'Umūru Tiada yang mereka nanti-nantikan (pada hari Kiamat) melainkan datangnya (siksa) Allah dalam naungan awan dan malaikat, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan. (QS. 2:210) ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍ۚ ‌‌‌
Sal Banī 'Isrā'īla Kam 'Ātaynāhum Min 'Āyatin Bayyinatin ۗ Wa Man Yubaddil Ni`mata Allāhi Min Ba`di Mā Jā'at/hu Fa'inna Allāha Shadīdu Al-`Iqābi Tanyakanlah kepada bani Israil: "Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka". Dan barangsiapa yang menukar ni'mat Allah setelah datang ni'mat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. 2:211) ‍‍‌‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ۗ ‌‍‌ ‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍
Zuyyina Lilladhīna Kafarū Al-Ĥayāatu Ad-Dunyā Wa Yaskharūna Mina Al-Ladhīna 'Āmanū Wa ۘ Al-Ladhīna Attaqaw Fawqahum Yawma Al-Qiyāmati Wa ۗ Allāhu Yarzuqu Man Yashā'u Bighayri Ĥisābin Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. 2:212) ‍‍‍‍ ‌‍‍ ‍‌‍‌ ‌‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌ۘ‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍ ‍ ‍‍ۗ ‌‍ ‍‌‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌
Kāna An-Nāsu 'Ummatan Wāĥidatan Faba`atha Allāhu An-Nabīyīna Mubashshirīna Wa Mundhirīna Wa 'Anzala Ma`ahumu Al-Kitāba Bil-Ĥaqqi Liyaĥkuma Bayna An-Nāsi Fīmā Akhtalafū Fīhi ۚ Wa Mā Akhtalafa Fīhi 'Illā Al-Ladhīna 'Ūtūhu Min Ba`di Mā Jā'at/humu Al-Bayyinātu Baghyāan Baynahum ۖ Fahadá Allāhu Al-Ladhīna 'Āmanū Limā Akhtalafū Fīhi Mina Al-Ĥaqqi Bi'idhnihi Wa ۗ Allāhu Yahdī Man Yashā'u 'Ilá Şirāţin Mustaqīmin Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. 2:213) ‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ۚ ‌‌ ‍ ‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍ ۗ ‍‌‍‍‌‌ ‌‌ ‍‌‌ ‍‍‍
'Am Ĥasibtum 'An Tadkhulū Al-Jannata Wa Lammā Ya'tikum Mathalu Al-Ladhīna Khalaw Min Qablikum ۖ Massat/humu Al-Ba'sā'u Wa Ađ-Đarrā'u Wa Zulzilū Ĥattá Yaqūla Ar-Rasūlu Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Ma`ahu Matá Naşru Allāhi ۗ 'Alā 'Inna Naşra Allāhi Qarībun Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214) ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍‌ ‍‍ۖ ‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍‌‌‌ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍‌ ۗ ‌‌ ‌‍‍
Yas'alūnaka Mādhā Yunfiqūna ۖ Qul Mā 'Anfaqtum Min Khayrin Falilwālidayni Wa Al-'Aqrabīna Wa Al-Yatāmá Wa Al-Masākīni Wa Abni As-Sabīli ۗ Wa Mā Taf`alū Min Khayrin Fa'inna Allāha Bihi `Alīmun Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. 2:215) ‌‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ۖ ‍ ‍‌ ‌‌‍‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍‌‌ ‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ۗ ‌‌ ‌ ‍‌ ‍‍‍‌ ‍ ‍
Kutiba `Alaykumu Al-Qitālu Wa Huwa Kurhun Lakum ۖ Wa `Asá 'An TakraShay'āan Wa Huwa Khayrun Lakum ۖ Wa `Asá 'An Tuĥibbū Shay'āan Wa Huwa Sharrun Lakum Wa ۗ Allāhu Ya`lamu Wa 'Antum Lā Ta`lamūna Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216) ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ۖ ‌‍‌ ‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍ۖ ‌‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ۗ ‌‌‌‍ ‌
Yas'alūnaka `Ani Ash-Shahri Al-Ĥarāmi Qitālin Fīhi ۖ Qul Qitālun Fīhi Kabīrun ۖ Wa Şaddun `An Sabīli Allāhi Wa Kufrun Bihi Wa Al-Masjidi Al-Ĥarāmi Wa 'Ikhrāju 'Ahlihi Minhu 'Akbaru `Inda Allāhi Wa ۚ Al-Fitnatu 'Akbaru Mina Al-Qatli ۗ Wa Lā Yazālūna Yuqātilūnakum Ĥattá Yaruddūkum `An Dīnikum 'Ini Astaţā`ū ۚ Wa Man Yartadid Minkum `An Dīnihi Fayamut Wa Huwa Kāfirun Fa'ūlā'ika Ĥabiţat 'A`māluhum Ad-Dunyā Wa Al-'Ākhirati ۖ Wa 'Ūlā'ika 'Aşĥābu An-Nāri ۖ Hum Fīhā Khālidūna Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:217) ‍‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ۖ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ۖ ‌‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‌ ‌‌‍‌ ‌‍ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍ۗ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍ۚ ‌‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‌ ‌‍‍ ۖ ‌‌‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‍‌
'Inna Al-Ladhīna 'Āmanū Wa Al-Ladhīna Hājarū Wa Jāhadū Fī Sabīli Allāhi 'Ūlā'ika Yarjūna Raĥmata Allāhi Wa ۚ Allāhu Ghafūrun Raĥīmun Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:218) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‍ ۚ ‍‍‍‍‌ ‌‍
Yas'alūnaka `Ani Al-Khamri Wa Al-Maysiri ۖ Qul Fīhimā 'Ithmun Kabīrun Wa Manāfi`u Lilnnāsi Wa 'Ithmuhumā 'Akbaru Min Naf`ihimā ۗ Wa Yas'alūnaka Mādhā Yunfiqūna Quli Al-`Afwa ۗ Kadhālika Yubayyinu Allāhu Lakumu Al-'Āyāti La`allakum Tatafakkarūna Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa'at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa'atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. 2:219) ‍‍‍‍‍‍‌ ‌ۖ ‍ ‍‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌‍‌ ‌‌ ‍‌ۗ ‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ۗ ‍‍
Ad-Dunyā Wa Al-'Ākhirati ۗ Wa Yas'alūnaka `Ani Al-Yatāmá ۖ Qul 'Işlāĥun Lahum Khayrun ۖ Wa 'In Tukhāliţūhum Fa'ikhwānukum Wa ۚ Allāhu Ya`lamu Al-Mufsida Mina Al-Muşliĥi ۚ Wa Law Shā'a Allāhu La'a`natakum ۚ 'Inna Allāha `Azīzun Ĥakīmun tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:220) ‍‌‍‌ ‌‍‍ ۗۖ ‍ ‌ ‍‍ۖ ‌‌‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ۚ ‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‌‌ ۚ ‍‍‍‍‌
Wa Lā Tankiĥū Al-Mushrikāti Ĥattá Yu'uminna ۚ Wa La'amatun Mu'uminatun Khayrun Min Mushrikatin Wa Law 'A`jabatkum ۗ Wa Lā Tunkiĥū Al-Mushrikīna Ĥattá Yu'uminū ۚ Wa La`abdun Mu'uminun Khayrun Min Mushrikin Wa Law 'A`jabakum ۗ 'Ūlā'ika Yad`ūna 'Ilá An-Nāri Wa ۖ Allāhu Yad`ū 'Ilá Al-Jannati Wa Al-Maghfirati Bi'idhnihi ۖ Wa Yubayyinu 'Āyātihi Lilnnāsi La`allahum Yatadhakkarūna Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu'min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. 2:221) ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‌ ‍ ۚ‍‍‌ ‍‌‌ ‌‌ ‌ ۗ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌ ۚ ‌‍‍‍‍‍‌ ‍‌‌ ‌‌ ‌ ۗ‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‌ ‌‌ ‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍ ۖ ‌ ‌‍‍‍‍‍
Wa Yas'alūnaka `Ani Al-Maĥīđi ۖ Qul Huwa 'Adhan Fā`tazilū An-Nisā' Fī Al-Maĥīđi ۖ Wa Lā Taqrabūhunna Ĥattá Yaţhurna ۖ Fa'idhā Taţahharna Fa'tūhunna Min Ĥaythu 'Amarakumu Allāhu ۚ 'Inna Allāha Yuĥibbu At-Tawwābīna Wa Yuĥibbu Al-Mutaţahhirīna Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. 2:222) ‍‍‍ ۖ ‍ ‌ ‌‌‌‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ۖ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‍ ‍‌‍‍‍ ‌‍ ۚ ‍‌‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍
Nisā'uukum Ĥarthun Lakum Fa'tū Ĥarthakum 'Anná Shi'tum ۖ Wa Qaddimū Li'nfusikum ۚ Wa Attaqū Allaha Wa A`lamū 'Annakum Mulāqūhu ۗ Wa Bashshiri Al-Mu'uminīna Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. 2:223) ‍‍ ‌ ‌‍‌ ۖ ‌‍‌ ‌ۚ‍‍‍ ‌‌ ‌‍ ‍ ۗ ‌‌
Wa Lā Taj`alū Allaha `Urđatan Li'ymānikum 'An Tabarrū Wa Tattaqū Wa Tuşliĥū Bayna An-Nāsi Wa ۗ Allāhu Samī`un `Alīmun Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertaqwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:224) ‌ ‍‍‍‍ ‍ ‍ ‌‌‌ ‌‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ۗ‍‍‍
Lā Yu'uākhidhukumu Allāhu Bil-Laghwi Fī 'Aymānikum Wa Lakin Yu'uākhidhukum Bimā Kasabat Qulūbukum Wa ۗ Allāhu Ghafūrun Ĥalīmun Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. 2:225) ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ‍ ‌ ‌‍‌ ‍‍‍ ‌ ۗ ‍‍‍‍‌‌
Lilladhīna Yu'ulūna Min Nisā'ihim Tarabbuşu 'Arba`ati 'Ash/hurin ۖ Fa'in Fā'ū Fa'inna Allāha Ghafūrun Raĥīmun Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:226) ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‍‌‍‍ ‌‌ ‌‌ۖ‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍
Wa 'In `Azamū Aţ-Ţalāqa Fa'inna Allāha Samī`un `Alīmun Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:227) ‌‌ ‍‍‍‍ ‍ ‍‍‍‍
Wa Al-Muţallaqātu Yatarabbaşna Bi'anfusihinna Thalāthata Qurū'in ۚ Wa Lā Yaĥillu Lahunna 'An Yaktumna Mā Khalaqa Allāhu Fī 'Arĥāmihinna 'In Kunna Yu'uminna Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri ۚ Wa Bu`ūlatuhunna 'Aĥaqqu Biraddihinna Fī Dhālika 'In 'Adū 'Işlāĥāan ۚ Wa Lahunna Mithlu Al-Ladhī `Alayhinna Bil-Ma`rūfi ۚ Wa Lilrrijāli `Alayhinna Darajatun Wa ۗ Allāhu `Azīzun Ĥakīmun Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:228) ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍ ‍‍‌ۚ ‌‌ ‍ ‌‌‍‍ ‍ ‍ ‌‌‍ ‌‌‍ ‌ ‍‍‍‌ ۚ ‌‍ ‌‍‌‍ ‌ ‌‌ ‌‌‍‌‌‌ ‌ۚ ‌‍ ‍‍‌ ۚ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍ۗ ‍‍‍‍‌
Aţ-Ţalāqu Marratāni ۖ Fa'imsākun Bima`rūfin 'Aw Tasrīĥun Bi'iĥsānin ۗ Wa Lā Yaĥillu Lakum 'An Ta'khudhū Mimmā 'Ātaytumūhunna Shay'āan 'Illā 'An Yakhāfā 'Allā Yuqīmā Ĥudūda Allāhi ۖ Fa'in Khiftum 'Allā Yuqīmā Ĥudūda Allāhi Falā Junāĥa `Alayhimā Fīmā Aftadat Bihi ۗ Tilka Ĥudūdu Allāhi Falā Ta`tadūhā ۚ Wa Man Yata`adda Ĥudūda Allāhi Fa'ūlā'ika Humu Až-Žālimūna Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 2:229) ‍‍‍‍‍‍ ۖ‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍ۗ ‌‌ ‌‌‍‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‌‌‌ ۖ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‌‌‌ ‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ۗ ‍‍‌‌‌ ‍ ‌ ‌‌ ۚ ‌‍‌‍‍‌‌‌ ‍‍‌‍‍‍ ‍‍
Fa'in Ţallaqahā Falā Taĥillu Lahu Min Ba`du Ĥattá Tankiĥa Zawjāan Ghayrahu ۗ Fa'in Ţallaqahā Falā Junāĥa `Alayhimā 'An Yataja`ā 'In Žannā 'An Yuqīmā Ĥudūda Allāhi ۗ Wa Tilka Ĥudūdu Allāhi Yubayyinuhā Liqawmin Ya`lamūna Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia nikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikanya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk nikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (QS. 2:230) ‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍ ۗ ‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌‌‍‌ ‌‌ ‍‍‌ ‌‌‍‍‍‌ ‍‍‌‌‌ ۗ‍‍‌‌‌ ‍ ‌ ‍‍‍
Wa 'Idhā Ţallaqtumu An-Nisā' Fabalaghna 'Ajalahunna Fa'amsikūhunna Bima`rūfin 'Aw Sarriĥūhunna Bima`rūfin ۚ Wa Lā Tumsikūhunna Đirāan Lita`tadū ۚ Wa Man Yaf`al Dhālika Faqad Žalama Nafsahu ۚ Wa Lā Tattakhidhū 'Āyāti Allāhi Huzūan ۚ Wa Adhkurū Ni`mata Allāhi `Alaykum Wa Mā 'Anzala `Alaykum Mina Al-Kitābi Wa Al-Ĥikmati Ya`ižukum Bihi ۚ Wa Attaqū Allaha Wa A`lamū 'Anna Allāha Bikulli Shay'in `Alīmun Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah ni'mat Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 2:231) ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍ ‍‍‌ ‌‌‌ ‍ ‍‍‌ۚ ‌‌ ‍ ‌‌‌‌ ‌ۚ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍ ‍‍‌ۚ‌‌‍ ‌‍‌ ‌‌‍‍‍‍‍ ‍ ۚ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍ ‍
Wa 'Idhā Ţallaqtumu An-Nisā' Fabalaghna 'Ajalahunna Falā Ta`đulūhunna 'An Yankiĥna 'Azwājahunna 'Idhā Tađaw Baynahum Bil-Ma`rūfi ۗ Dhālika Yū`ažu Bihi Man Kāna Minkum Yu'uminu Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri ۗ Dhālikum 'Azká Lakum Wa 'Aţharu Wa ۗ Allāhu Ya`lamu Wa 'Antum Lā Ta`lamūna Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka nikah lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:232) ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍ ‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌‌‍ ‌‌‌‌ ‍‍‌‌ ‍‍‍‌ ۗ ‌ ‍ ‍‌‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ۗ ‌ ‌‌‌ ‌‌‍‍‍‌ ۗ ‌‌‌‍ ‌
Wa Al-Wālidātu Yurđi`na 'Awlādahunna Ĥawlayni Kāmilayni ۖ Liman 'Arāda 'An Yutimma Ar-Rađā`ata ۚ Wa `Alá Al-Mawlūdi Lahu Rizquhunna Wa Kiswatuhunna Bil-Ma`rūfi ۚ Lā Tukallafu Nafsun 'Illā Wus`ahā ۚ Lā Tuđārra Wa A-Datun Biwaladihā Wa Lā Mawlūdun Lahu Biwaladihi ۚ Wa `Alá Al-Wārithi Mithlu Dhālika ۗ Fa'in 'Adā Fişālāan `An Tađin Minhumā Wa Tashāwurin Falā Junāĥa `Alayhimā ۗ Wa 'In 'Aradtum 'An Tastarđi`ū 'Awlādakum Falā Junāĥa `Alaykum 'Idhā Sallamtum Mā 'Ātaytum Bil-Ma`rūfi ۗ Wa Attaqū Allaha Wa A`lamū 'Anna Allāha Bimā Ta`malūna Başīrun Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:233) ‌‌‍‍‌‍ ‌‌‌‍‍‍‍ ‍‍‍ۖ ‍‌ ‌‌‍‌‌‌ ‌‌ ‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‌‌ ‍ ‌‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ۚ ‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ۚ ‌ ‍‍‍‌‍‌ ‌‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍ ۚ ‌‌ ۗ ‌‌‍‌‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌‌‌‌‌ ‌ ‍‍‍ۗ ‌‌‌ ‌‌‍ ‌‌‍‍‌ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍ ‌‌‌‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ۗ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍
Wa Al-Ladhīna Yutawaffawna Minkum Wa Yadharūna 'Azwājāan Yatarabbaşna Bi'anfusihinna 'Arba`ata 'Ash/hurin Wa `Ashan ۖ Fa'idhā Balaghna 'Ajalahunna Falā Junāĥa `Alaykum Fīmā Fa`alna Fī 'Anfusihinna Bil-Ma`rūfi Wa ۗ Allāhu Bimā Ta`malūna Khabīrun Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. 2:234) ‍‍‍‍ ‍ ‍‌‍‍‍ ‌‌‍‍‌ ‌‌‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍ ‌‌ ‌‌ ‌‌‌ۖ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‍ ‌‌‍‍‍‍‌ ۗ ‌ ‍‍‍
Wa Lā Junāĥa `Alaykum Fīmā `Arrađtum Bihi Min Khiţbati An-Nisā' 'Aw 'Aknantum Fī 'Anfusikum ۚ `Alima Allāhu 'Annakum Satadhkurūnahunna Wa Lakin Lā Tuwā`idūhunna Siran 'Illā 'An Taqūlū Qawlāan Ma`rūfāan ۚ Wa Lā Ta`zimū `Uqdata An-Nikāĥi Ĥattá Yablugha Al-Kitābu 'Ajalahu ۚ Wa A`lamū 'Anna Allāha Ya`lamu Mā Fī 'Anfusikum Fāĥdharūhu ۚ Wa A`lamū 'Anna Allāha Ghafūrun Ĥalīmun Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji nikah dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam harimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. 2:235) ‌ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍ ‍ ‍‌ ‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‌‌ ‌‍‌‍‍‍ ‍ ‌‌ۚ ‍ ‌‍ ‌‍ ‌‍‌ ‌ ‌‌‍‍‍‌‌‌ ‌‌ ‌‌‍‍‌ ‌ۚ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍ ‍‍ ‌‍ ۚ‌ ‌ ‍ ‌ ‍ ‌‌‍ ‌‍‍‌ ۚ‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌
Lā Junāĥa `Alaykum 'In Ţallaqtumu An-Nisā' Mā Lam Tamassūhunna 'Aw Tafriđū Lahunna Farīđatan ۚ Wa Matti`ūhunna `Alá Al-Mūsi`i Qadaruhu Wa `Alá Al-Muqtiri Qadaruhu Matā`āan Bil-Ma`rūfi ۖ Ĥaqqāan `Alá Al-Muĥsinīna Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 2:236) ‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌ ‍ ‌‌‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍ ۚ ‌‍ ‍‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ۖ‍‍‍‌ ‌
Wa 'In Ţallaqtumūhunna Min Qabli 'An Tamassūhunna Wa Qad Farađtum Lahunna Farīđatan Fanişfu Mā Farađtum 'Illā 'An Ya`fūna 'Aw Ya`fuwa Al-Ladhī Biyadihi `Uqdatu An-Nikāĥi ۚ Wa 'An Ta`fū 'Aqrabu Lilttaqۚ Wa Lā Tansaw Al-Fađla Baynakum ۚ 'Inna Allāha Bimā Ta`malūna Başīrun Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema'afkan atau dima'afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema'afan kamu itu lebih dekat kepada taqwa. Dan janganlah kau melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Melihat segala apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:237) ‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌ ‌‍‌ ‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍ ‌‌ ‌‌‍‍ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ۚ ‌‌‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ۚ ‌‌ ‍‌‍‍‍‌‌ ‍‍ۚ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍
Ĥāfižū `Alá Aş-Şalawāti Wa Aş-Şalāati Al-Wusţá Wa Qūmū Lillāh Qānitīna Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. (QS. 2:238) ‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌‍‍‍‍‍‌ ‌‍
Fa'in Khiftum Farijālāan 'Aw Rukbānāan ۖ Fa'idhā 'Amintumdhkurū Allaha Kamā `Allamakum Mā Lam Takūnū Ta`lamūna Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kau ketahui. (QS. 2:239) ‍ ‍‌ ‌‌‌ ‌‌ۖ‌ ‌‍‌‍‍‍ ‌‌‍ ‌ ‌
Wa Al-Ladhīna Yutawaffawna Minkum Wa Yadharūna 'Azwājāan Waşīyatan Li'zwājihim Matā`āan 'Ilá Al-Ĥawli Ghayra 'Ikhrājin ۚ Fa'in Kharajna Falā Junāĥa `Alaykum Fī Mā Fa`alna Fī 'Anfusihinna Min Ma`rūfin Wa ۗ Allāhu `Azīzun Ĥakīmun Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:240) ‍‍‍‍ ‍ ‍‌‍‍‍ ‌‌‍‍‌ ‌‌‌‌‌ ‌‍ ‌ ‌‌‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‌ ‌‍‌ۚ ‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‍ ‌‌‍‍ ‍‌ ‍‍‌ۗ ‍‍‍‍‌
Wa Lilmuţallaqāti Matā`un Bil-Ma`rūfi ۖ Ĥaqqāan `Alá Al-Muttaqīna Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut'ah menurut yang ma'ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang taqwa. (QS. 2:241) ‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ۖ‍‍‍‌ ‌ ‍‍
Kadhālika Yubayyinu Allāhu Lakum 'Āyātihi La`allakum Ta`qilūna Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. (QS. 2:242) ‍ ‌‍‍‍
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhīna Kharajū Min Diyārihim Wa Hum 'Ulūfun Ĥadhara Al-Mawti Faqāla Lahumu Allāhu Mūtū Thumma 'Aĥyāhum ۚ 'Inna Allāha Ladhū Fađlin `Alá An-Nāsi Wa Lakinna 'Akthara An-Nāsi Lā Yashkurūna Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu , kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. 2:243) ‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌ ‌‍‍‍ ‌‍‍‍ ‌ ‍ۚ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌ ‌
Wa Qātilū Fī Sabīli Allāhi Wa A`lamū 'Anna Allāha Samī`un `Alīmun Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:244) ‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍ ‍‍‍‍
Man Dhā Al-Ladhī Yuqriđu Allāha Qarđāan Ĥasanāan Fayuđā`ifahu Lahu~ 'Ađ`āfāan Kathīratan Wa ۚ Allāhu Yaqbiđu Wa Yabsuţu Wa 'Ilayhi Turja`ūna Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. 2:245) ‍‌ ‌‌‌ ‍‍ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ~ ‌‍‍‌‌ ‍ ۚ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍
'Alam Tara 'Ilá Al-Mala'i Min Banī 'Isrā'īla Min Ba`di Mūsá 'Idh Qālū Linabīyin Lahum Ab`ath Lanā Malikāan Nuqātil Fī Sabīli Allāhi ۖ Qāla Hal `Asaytum 'In Kutiba `Alaykumu Al-Qitālu 'Allā Tuqātilū ۖ Qālū Wa Mā Lanā 'Allā Nuqātila Fī Sabīli Allāhi Wa Qad 'Ukhrijnā Min Diyārinā Wa 'Abnā'inā ۖ Falammā Kutiba `Alayhimu Al-Qitālu Tawallaw 'Illā Qalīlāan Minhum Wa ۗ Allāhu `Alīmun Biž-Žālimīna Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemukan Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami 155?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. (QS. 2:246) ‌ ‌‌ ‌ ‍‌‍‍‌‍‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍‌ ‌‌‌ ‍ ‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍ۖ ‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‍‍‌ ‍‌‌ ‌‌‍‍‍‍ۖ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‌ ‍‌‍‍ۗ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍
Wa Qāla Lahum Nabīyuhum 'Inna Allāha Qad Ba`atha Lakum Ţālūta Malikāan ۚ Qālū 'Anná Yakūnu Lahu Al-Mulku `Alaynā Wa Naĥnu 'Aĥaqqu Bil-Mulki Minhu Wa Lam Yu'uta Sa`atan Mina Al-Māli ۚ Qāla 'Inna Allāha Aşţafāhu `Alaykum Wa Zādahu Basţatan Al-`Ilmi Wa Al-Jismi Wa ۖ Allāhu Yu'utī Mulkahu Man Yashā'u Wa ۚ Allāhu Wāsi`un `Alīmun Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:247) ‍‍‍‍ۚ ‍‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ‌‍ ‍‌‍‍‍ ‌ ‍‍ ۚ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‌‍‍‍‌ ۖ ‍‌‍‍‌‌ ۚ ‌‌
Wa Qāla Lahum Nabīyuhum 'Inna 'Āyata Mulkihi~ 'An Ya'tiyakumu At-Tābūtu Fīhi Sakīnatun Min Rabbikum Wa Baqīyatun Mimmā Taraka 'Ālu Mūsá Wa 'Ālu Hārūna Taĥmiluhu Al-Malā'ikatu ۚ 'Inna Fī Dhālika La'āyatan Lakum 'In Kuntum Mu'uminīna Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. (QS. 2:248) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍ ‌ ‌ ‌‌ ‌‍‍‌ ۚ ‌ ‌‌ ‍‌‍‍
Falammā Faşala Ţālūtu Bil-Junūdi Qāla 'Inna Allāha Mubtalīkum Binaharin Faman Shariba Minhu Falaysa Minnī Wa Man Lam Yaţ`amhu Fa'innahu Minnī 'Illā Mani Aghtarafa Ghurfatan Biyadihi ۚ Fasharibū Minhu 'Illā Qalīlāan Minhum ۚ Falammā Jāwazahu Huwa Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Ma`ahu Qālū Lā Ţāqata Lanā Al-Yawma Bijālūta Wa Junūdihi ۚ Qāla Al-Ladhīna Yažunnūna 'Annahum Mulāqū Allahi Kam Min Fi'atin Qalīlatin Ghalabat Fi'atan Kathīratan Bi'idhni Allāhi Wa ۗ Allāhu Ma`a Aş-Şābirīna Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyebrangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS. 2:249) ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‍‌‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍ ۚ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‌‍‍ۚ‍‍‍‌ ‌‌ ‌ ‌‍‍‍‍ ‌‌ ‍ ‌ ‌ ‍ ‌ ‍‍ ‌‌ ۚ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ‍‌‍ ‌ ‌ ‍ ‌ ‌ ۗ ‍‍‍‍
Wa Lammā Barazū Lijālūta Wa Junūdihi Qālū Rabbanā 'Afrigh `Alaynā Şaban Wa Thabbit 'Aqdāmanā Wa Anşurnā `Alá Al-Qawmi Al-Kāfirīna Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdo'a: "Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir". (QS. 2:250) ‍‍‍‌ ‍‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌‍‌ ‌‍‍‍‍‌‌ ‌ ‌‍‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍
Fahazamūhum Bi'idhni Allāhi Wa Qatala Dāwūdu Jālūta Wa 'Ātāhu Allāhu Al-Mulka Wa Al-Ĥikmata Wa `Allamahu Mimmā Yashā'u ۗ Wa Lawlā Daf`u Allāhi An-Nāsa Ba`đahum Biba`đin Lafasadati Al-'Arđu Wa Lakinna Allāha Dhū Fađlin `Alá Al-`Ālamīna Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS. 2:251) ‍ ‌‍‍ ‌‌‌‍‍‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌‌ ۗ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‌‍ ‌‍ ‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌
Tilka 'Āyātu Allāhi Natlūhā `Alayka Bil-Ĥaqqi ۚ Wa 'Innaka Lamina Al-Mursalīna Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus. (QS. 2:252) ‌‍‍‍ ‍ ‌ ‍‍‍‍ ‍ ۚ ‌‌
Tilka Ar-Rusulu Fađđalnā Ba`đahum `Alá Ba`đin ۘ Minhum Man Kallama Allāhu ۖ Wa Rafa`a Ba`đahum Darajātin ۚ Wa 'Ātaynā `Īsá Abna Maryama Al-Bayyināti Wa 'Ayyadnāhu Birūĥi Al-Qudusi ۗ Wa Law Shā'a Allāhu Mā Aqtatala Al-Ladhīna Min Ba`dihim Min Ba`di Mā Jā'at/humu Al-Bayyinātu Wa Lakini Akhtalafū Faminhum Man 'Āmana Wa Minhum Man Kafara ۚ Wa Law Shā'a Allāhu Mā Aqtatalū Wa Lakinna Allāha Yaf`alu Mā Yurīdu Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada 'Isa putera Maryam beberapa mu'jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. 2:253) ‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍ۘ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ۖ ‌‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ۚ ‌‌‌ ‌ ‍‍ ‌‌‍‍‍ ‍‍‌ ‍‍ۗ ‌‌ ‍‍‍‌‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌‍‌‍‍‍ ‍‌ۚ ‌‌ ‍‍‍‌‌ ‍ ‌ ‍‍‌ ‌‍ ‍ ‌ ‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū 'Anfiqū Mimmā Razaqnākum Min Qabli 'An Ya'tiya Yawmun Lā Bay`un Fīhi Wa Lā Khullatun Wa Lā Shafā`atun Wa ۗ Al-Kāfirūna Humu Až-Žālimūna Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (QS. 2:254) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌‌ ۗ‍‍‌ ‍‍
Al-Lahu Lā 'Ilāha 'Illā Huwa Al-Ĥayyu Al-Qayyūmu ۚ Lā Ta'khudhuhu Sinatun Wa Lā Nawmun ۚ Lahu Mā Fī As-Samāwāti Wa Mā Fī Al-'Arđi ۗ Man Dhā Al-Ladhī Yashfa`u `Indahu~ 'Illā Bi'idhnihi ۚ Ya`lamu Mā Bayna 'Aydīhim Wa Mā Khalfahum ۖ Wa Lā Yuĥīţūna Bishay'in Min `Ilmihi~ 'Illā Bimā Shā'a ۚ Wasi`a Kursīyuhu As-Samāwāti Wa Al-'Arđa ۖ Wa Lā Ya'ūduhu Ĥifžuhumā ۚ Wa Huwa Al-`Alīyu Al-`Ažīmu Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. 2:255) ‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ۚ ‌ ‍ ‌ ‌‌ ‍ ۚ‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‍ ۗ ‍‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍~ ‌‌ ‌‍ ۚ ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ۖ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‌‌ ۚ‍‌‍‍‌‌‍ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‌‍‍‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍
Lā 'Ikrāha Fī Ad-Dīni ۖ Qad Tabayyana Ar-Rushdu Mina Al-Ghayyi ۚ Faman Yakfur Biţ-Ţāghūti Wa Yu'umin Billāhi Faqadi Astamsaka Bil-`Urwati Al-Wuthqá Lā Anfişāma Lahā Wa ۗ Allāhu Samī`un `Alīmun Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:256) ‌ ‌‍‍‌ ‍‍‍ۖ ‍‌ ‍‍ۚ ‍‌ ‌ ‍‍‍ ‌‍‌‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍ۗ‍‍‍
Al-Lahu Wa Līyu Al-Ladhīna 'Āmanū Yukhrijuhum Mina Až-Žulumāti 'Ilá An-Nūr Wa ۖ Al-Ladhīna Kafarū 'Awliyā'uuhumu Aţ-Ţāghūtu Yukhrijūnahum Mina An-Nūr 'Ilá Až-Žulumāti ۗ 'Ūlā'ika 'Aşĥābu An-Nāri ۖ Hum Fīhā Khālidūna Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:257) ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‌‌ ۖ‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ۗ‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‍‌
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhī Ĥājja 'Ibhīma Fī Rabbihi~ 'An 'Ātāhu Allāhu Al-Mulka 'Idh Qāla 'Ibhīmu Rabbī Al-Ladhī Yuĥyī Wa Yumītu Qāla 'Anā 'Uĥyī Wa 'Umītu ۖ Qāla 'Ibhīmu Fa'inna Allāha Ya'tī Bish-Shamsi Mina Al-Mashriqi Fa'ti Bihā Mina Al-Maghribi Fabuhita Al-Ladhī Kafara Wa ۗ Allāhu Lā Yahdī Al-Qawma Až-Žālimīna Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan". Orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan . Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 2:258) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‍ ‌‌ ‌‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌ ‌‌‍‍‍‍ۖ ‍‍‌‍‍‍‍ ‍ ‍‍‍ ۗ‍‍ ‍‍
'Aw Kālladhī Marra `Alá Qaryatin Wa Hiya Khāwiyatun `Alá `Urūshihā Qāla 'Anná Yuĥyī Hadhihi Allāhu Ba`da Mawtihā ۖ Fa'amātahu Allāhu Miā'ata `Āmin Thumma Ba`athahu ۖ Qāla Kam Labithta ۖ Qāla Labithtu Yawmāan 'Aw Ba`đa Yawmin ۖ Qāla Bal Labithta Miā'ata `Āminnžur 'Ilá Ţa`āmika Wa Shabika Lam Yatasannah ۖ Wa Anžur 'Ilá Ĥimārika Wa Linaj`alaka 'Āyatan Lilnnāsi ۖ Wa Anžur 'Ilá Al-`Ižāmi Kayfa Nunshizuhā Thumma Naksūhā Laĥmāan ۚ Falammā Tabayyana Lahu Qāla 'A`lamu 'Anna Allāha `Alá Kulli Shay'in Qadīrun Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?". Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menutupnya kembali dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. 2:259) ‌‌ ‍‌ ‌ ‌ ‌ ‍‌ ‌ ‌‌ ‍‌ ‍ ‌ ‌ ۖ ‍ ‍‍‍‌ ‍ ۖ ۖ ‌ ‌‌‌ ‍ۖ ‍‍‌ ‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍ ‌‍‌ ‍‍‍ۖ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ۖ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‌ ‌ۚ‍‍‍‌ ‍ ‌ ‌ ‍ ‌ ‍
Wa 'Idh Qāla 'Ibhīmu Rabbi 'Arinī Kayfa Tuĥyī Al-Mawtá ۖ Qāla 'Awalam Tu'umin ۖ Qāla Balá Wa Lakin Liyaţma'inna Qalbī ۖ Qāla Fakhudh 'Arba`atan Mina Aţ-Ţayri Faşurhunna 'Ilayka Thumma Aj`al `Alá Kulli Jabalin Minhunna Juz'āan Thumma Ad`uhunna Ya'tīnaka Sa`yāan ۚ Wa A`lam 'Anna Allāha `Azīzun Ĥakīmun Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati," Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman)"Lalu letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260) ‌‌‌ ‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‌ ۖ ‌ ‌‍‌‍‍‍‍ ۖ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‍ ‍ ‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‌‌‌‌ ‍ ۚ ‍‍‍‍‌
Mathalu Al-Ladhīna Yunfiqūna 'Amwālahum Fī Sabīli Allāhi Kamathali Ĥabbatin 'Anbatat Sab`a Sanābila Fī Kulli Sunbulatin Miā'atu Ĥabbatin Wa ۗ Allāhu Yuđā`ifu Liman Yashā'u Wa ۗ Allāhu Wāsi`un `Alīmun Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:261) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍ۗ‍‍‍ ‍‌‍‍‌‌ ۗ ‌‌
Al-Ladhīna Yunfiqūna 'Amwālahum Fī Sabīli Allāhi Thumma Lā Yutbi`ūna Mā 'Anfaqū Mannāan Wa Lā 'Adhan ۙ Lahum 'Ajruhum `Inda Rabbihim Wa Lā Khawfun `Alayhim Wa Lā Hum Yaĥzanūna Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:262) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‌‌ۙ‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‌
Qawlun Ma`rūfun Wa Maghfiratun Khayrun Min Şadaqatin Yatba`uhā 'Adhan Wa ۗ Allāhu Ghanīyun Ĥalīmun Perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. 2:263) ‍‍‌‌ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ‍‌ ‍‍‌ ‍‌ ‌‌‌ۗ
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Tubţilū Şadaqātikum Bil-Manni Wa Al-'Adhá Kālladhī Yunfiqu Mālahu Ri'ā'a An-Nāsi Wa Lā Yu'uminu Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri ۖ Famathaluhu Kamathali Şafwānin `Alayhi Turābun Fa'aşābahu Wa Abilun Fatarakahu Şaldāan ۖ Lā Yaqdirūna `Alá Shay'in Mimmā Kasabū Wa ۗ Allāhu Lā Yahdī Al-Qawma Al-Kāfirīna Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. 2:264) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌‌‌ ‍‌‍‍‍‍ ‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ۖ ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‌‌ ‍‍‍‌ ‍ ‍‌ۖ ‌ ‍‍‍‍‌‍‍‌ ‌ ‍‌ ‍‍‍‍‌ ۗ‍‍
Wa Mathalu Al-Ladhīna Yunfiqūna 'Amwālahumu Abtighā'a Marđāati Allāhi Wa Tathbītāan Min 'Anfusihim Kamathali Jannatin Birabwatin 'Aşābahā Wa Abilun Fa'ātat 'Ukulahā Đi`fayni Fa'in Lam Yuşibhā Wa Abilun Faţallun Wa ۗ Allāhu Bimā Ta`malūna Başīrun Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS. 2:265) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍ ‍ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍ ‌‍‍‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍ۗ ‌ ‍‍‍‍‍
'Ayawaddu 'Aĥadukum 'An Takūna Lahu Jannatun Min Nakhīlin Wa 'A`nābin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru Lahu Fīhā Min Kulli Ath-Thamarāti Wa 'Aşābahu Al-Kibaru Wa Lahu Dhurrīyatun Đu`afā'u Fa'aşābahā 'I`şārun Fīhi Nārun Fāĥtaraqat ۗ Kadhālika Yubayyinu Allāhu Lakumu Al-'Āyāti La`allakum Tatafakkarūna Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. 2:266) ‌‌ ‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ‍ ‌ ‍‌ ‍‍‍‌ ‌‌‍‌ ‌‍ ‌‌‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‍ ‍‍‍‌‌‌ ‍ۗ ‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū 'Anfiqū Min Ţayyibāti Mā Kasabtum Wa Mimmā 'Akhrajnā Lakum Mina Al-'Arđi ۖ Wa Lā Tayammamū Al-Khabītha Minhu Tunfiqūna Wa Lastum Bi'ākhidhīhi 'Illā 'An Tughmiđū Fīhi ۚ Wa A`lamū 'Anna Allāha Ghanīyun Ĥamīdun Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 2:267) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‌‍‍‌ ‌‍ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ۚ‌ ‌
Ash-Shayţānu Ya`idukumu Al-Faqra Wa Ya'murukum Bil-Faĥshā'i Wa ۖ Allāhu Ya`idukum Maghfiratan Minhu Wa Fađlāan Wa ۗ Allāhu Wāsi`un `Alīmun Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:268) ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‌‌ ۖ‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍ۗ ‌‌
Yu'utī Al-Ĥikmata Man Yashā'u ۚ Wa Man Yu'uta Al-Ĥikmata Faqad 'Ūtiya Khayan Kathīrāan ۗ Wa Mā Yadhdhakkaru 'Illā 'Ūlū Al-'Albābi Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269) ‍‌‍‍‌‌ ۚ ‌‍‌ ‍‍‌ ‌‍‍‍‌‌‌ ‍ۗ ‌‌ ‌ ‌‌ ‌‍‍
Wa Mā 'Anfaqtum Min Nafaqatin 'Aw Nadhartum Min Nadhrin Fa'inna Allāha Ya`lamuhu ۗ Wa Mā Lilžžālimīna Min 'Anşārin Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya. (QS. 2:270) ‌ ‌‌‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌ ‌ ‍‌ ‌‌ ‍ ‍ ۗ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌‍‍‍‌
'In Tub Aş-Şadaqāti Fani`immā Hiya ۖ Wa 'In Tukhfūhā Wa Tu'utūhā Al-Fuqarā'a Fahuwa Khayrun Lakum ۚ Wa Yukaffiru `Ankum Min Sayyi'ātikum Wa ۗ Allāhu Bimā Ta`malūna Khabīrun Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:271) ‍‍‍‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ۖ ‌‌‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌‌ ‌ ‍‍ۚ ‌‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍ۗ ‌ ‍‍‍
Laysa `Alayka Hudāhum Wa Lakinna Allāha Yahdī Man Yashā'u ۗ Wa Mā Tunfiqū Min Khayrin Fali'anfusikum ۚ Wa Mā Tunfiqūna 'Illā Abtighā'a Wajhi Allāhi Wa Mā ۚ Tunfiqū Min Khayrin Yuwaffa 'Ilaykum Wa 'Antum Lā Tužlamūna Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya. (QS. 2:272) ‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‌‍ ‍ ‍‌‍‍‌‌ ۗ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‌‌ ‌ۚ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌ۚ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‌ ‌ ‌‌‌‍ ‌ ‍‍‍
Lilfuqarā'i Al-Ladhīna 'Uĥşirū Fī Sabīli Allāhi Lā Yastaţī`ūna Đarbāan Al-'Arđi Yaĥsabuhumu Al-Jāhilu 'Aghniyā'a Mina At-Ta`affufi Ta`rifuhum Bisīmāhum Lā Yas'alūna An-Nāsa 'Ilĥāfāan ۗ Wa Mā Tunfiqū Min Khayrin Fa'inna Allāha Bihi `Alīmun (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS. 2:273) ‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍ ‍ ‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍ۗ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‌ ‍ ‍
Al-Ladhīna Yunfiqūna 'Amwālahum Bil-Layli Wa An-Nahāri Siran Wa `Alāniyatan Falahum 'Ajruhum `Inda Rabbihim Wa Lā Khawfun `Alayhim Wa Lā Hum Yaĥzanūna Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:274) ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌ ‌‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‌
Al-Ladhīna Ya'kulūna Ar-Ribā Lā Yaqūmūna 'Illā Kamā Yaqūmu Al-Ladhī Yatakhabbaţuhu Ash-Shayţānu Mina Al-Massi ۚ Dhālika Bi'annahum Qālū 'Innamā Al-Bay`u Mithlu Ar-Ribā ۗ Wa 'Aĥalla Allāhu Al-Bay`a Wa Ĥarrama Ar-Ribā ۚ Faman Jā'ahu Maw`ižatun Min Rabbihintahá Falahu Mā Salafa Wa 'Amruhu~ 'Ilá Allāhi ۖ Wa Man `Āda Fa'ūlā'ika 'Aşĥābu An-Nāri ۖ Hum Fīhā Khālidūna Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:275) ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ۚ‍‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍‌ ۗ ‌‌ ‍‍‍ ‌‍ ‍‌ ۚ ‍‌‍‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍‍‌ ‍ ‌ ‌‌~ ‌‌ ۖ ‌‍‌‍‍‌‌ ‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌ ۖ‍‌
Yamĥaqu Allāhu Ar-Ribā Wa Yurbī Aş-Şadaqāti Wa ۗ Allāhu Lā Yuĥibbu Kulla Kaffārin 'Athīmin Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. 2:276) ‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ۗ ‌ ‍‍‍‌‌ ‌
'Inna Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti Wa 'Aqāmū Aş-Şalāata Wa 'Ātaw Az-Zakāata Lahum 'Ajruhum `Inda Rabbihim Wa Lā Khawfun `Alayhim Wa Lā Hum Yaĥzanūna Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:277) ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍ ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‌
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Attaqū Allaha Wa Dharū Mā Baqiya Mina Ar-Ribā 'In Kuntum Mu'uminīna Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. 2:278) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‌‌‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍
Fa'in Lam Taf`alū Fa'dhanū Biĥarbin Mina Allāhi Wa Rasūlihi ۖ Wa 'In Tubtum Falakum Ru'ūsu 'Amwālikum Lā Tažlimūna Wa Lā Tužlamūna Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. 2:279) ‌ ‌‍ ‌‌‍ ۖ ‌‌‌‍‍‍ ‌‌‍‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍
Wa 'In Kāna Dhū `Usratin Fanažiratun 'Ilá Maysaratin ۚ Wa 'An Taşaddaqū Khayrun Lakum ۖ 'In Kuntum Ta`lamūna Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. 2:280) ‌‌‍‍ ‌‌‌ ‍‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍ۚ ‌‌‌‍‍‍‍‍‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‌‍‍
Wa Attaqū Yawmāan Turja`ūna Fīhi 'Ilá Allāhi ۖ Thumma Tuwaffá Kullu Nafsin Mā Kasabat Wa Hum Lā Yužlamūna Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (QS. 2:281) ‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ۖ‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū 'Idhā Tadāyantum Bidaynin 'Ilá 'Ajalin Musamman Fāktubūhu ۚ Wa Līaktub Baynakum Kātibun Bil-`Adli ۚ Wa Lā Ya'ba Kātibun 'An Yaktuba Kamā `Allamahu Allāhu ۚ Falyaktub Wa Līumlili Al-Ladhī `Alayhi Al-Ĥaqqu Wa Līattaqi Allāha Rabbahu Wa Lā Yabkhas Minhu Shay'āan ۚ Fa'in Kāna Al-Ladhī `Alayhi Al-Ĥaqqu Safīhāan 'Aw Đa`īfāan 'Aw Lā Yastaţī`u 'An Yumilla Huwa Falyumlil Walīyuhu Bil-`Adli ۚ Wa Astash/hidū Shahīdayni Min Rijālikum ۖ Fa'in Lam Yakūnā Rajulayni Farajulun Wa Amra'atāni Mimman Tarđawna Mina Ash-Shuhadā'i 'An Tađilla 'Iĥdāhumā Fatudhakkira 'Iĥdāhumā Al-'Ukhۚ Wa Lā Ya'ba Ash-Shuhadā'u 'Idhā Mā Du`ū ۚ Wa Lā Tas'amū 'An Taktubūhu Şaghīrāan 'Aw Kabīrāan 'Ilá 'Ajalihi ۚ Dhālikum 'Aqsaţu `Inda Allāhi Wa 'Aqwamu Lilshshahādati Wa 'Adná 'Allā Tartābū ۖ 'Illā 'An Takūna Tijāratan Ĥāđiratan Tudīrūnahā Baynakum Falaysa `Alaykum Junāĥun 'Allā Taktubūhā ۗ Wa 'Ash/hidū 'Idhā Tabāya`tum ۚ Wa Lā Yuđārra Kātibun Wa Lā Shahīdun ۚ Wa 'In Taf`alū Fa'innahu Fusūqun Bikum ۗ Wa Attaqū Allaha ۖ Wa Yu`allimukumu Allāhu Wa ۗ Allāhu Bikulli Shay'in `Alīmun Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 2:282) ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‌‌ ‌‍‌‍‍‍‌‌ ‌‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍ ۚ ‌‍‌ ‍ ۚ ‌‌ ‌‌ۚ‍‍ ‌‍ ‍ ‌‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‌ۚ‍‍ ‍‍ ‌ ‌‌‌ ‍‌ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌‍ ۚ‍ ‍‌ ۖ ‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‌‌‌ ‌‌‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌‌ ۚ ‌‌ ‍‍‌‌‌ ‌‌‌‌ ‌ ‌ۚ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍‍ ‍‍‍‍‌‌ ‌‌‌ ‍‌‌‌ ‌‍‌ ‌‍ ۚ ‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‌‌‍‍‍ ‌ ‌‌‌ ‌‌ ‍ۖ ‌‌ ‌‌‍‍ ‌‍ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌‌ ‌ ۗ ‌‌‌ ‌‌‌‌ ۚ ‌‌ ‍‍‍‌‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍ۚ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‌ۗ‍‍ۖۗ
Wa 'In Kuntum `Alá Safarin Wa Lam Tjidū Kātibāan Farihānun Maqbūđatun ۖ Fa'in 'Amina Ba`đukum Ba`đāan Falyu'uaddi Al-Ladhī A'utumina 'Amānatahu Wa Līattaqi Allāha Rabbahu ۗ Wa Lā Taktumū Ash-Shahādata ۚ Wa Man Yaktumhā Fa'innahu~thimun Qalbuhu Wa ۗ Allāhu Bimā Ta`malūna `Alīmun J